Beranda Editorial Warga Cisel Banyak yang Tidak Pakai Masker

Warga Cisel Banyak yang Tidak Pakai Masker

336
0

JCS – Saat pendemik Covid-19 ini, ternyata masih banyak warga di pelosok desa yang tidak memakai masker, terutama ketika keluar rumah. Fenomena seperti ini (banyak warga yang tidak memakai masker) terjadi di pelesok-pelosok desa alias di kampung-kampung seperti di Cianjur selatan (Cisel), wilayah Kecamatan Leles, Agrabinta, Sindangbarang, Cijati dan wilayah lainnya.

Ya, lihat saja tuh! Meski anjuran di rumah aja, tapi dari berbagai usia banyak yang tidak menggunakan masker, seperti mereka yang naik motor, pergi ke kebun, ke sawah maupun mau belanja ke warung atau pertokoan.

Entah! Apakah kondisi ini kurang sosialisasi dari pemerintah atau anggapan mereka bahwa wabah tersebut enteng tidak berbahaya?!

Namun fenomena sebaliknya (warga yang menggunakan masker) cukup banyak, seperti sebagian para pemotor, pegawai/pelayan masyarakat, dan juga orang-orang yang belanja ke warung-warung atau pergi ke pusat perbelanjaan Sindangbarang.

Tapi berdasarkan panatauan JCS selama beberapa hari lalu, ternyata banyak warga pelosok desa yang tidak memakai masker, saat keluar rumah.

Jadi, suasana kekhawatiran warga terhadap pandemi wabah corona tak begitu terasa di pelosok desa. Tak seperti di daerah perkotaan.

Mereka beraktivitas serta berinteraksi biasa seperti tak akan terjadi apa-apa.

Padahal bahaya mengintai tatkala warga datang dari zona merah alias mudik (pulang kampung).

Apalagi, data pemudik saat ini sudah puluhan ribu orang.

Yakin, mayoritas orang punya masker:
Setidaknya, masing-masing orang sudah memiliki masker karena banyak instansi, lembaga, termasuk anggota DPRD Cianjur yang datang ke Cianjur selatan membagikan masker gratis. Belum lagi mereka pernah membeli masker.

Mengetahui manfaat masker:
Fungsi masker selain untuk perawatan kulit bagian wajah, masker juga bisa menurangi potensi penyebaran Covid-19.

Hemat penulis, penyebaran virus corona memang perlu diantisipasi dengan baik. Sebelumnya, para ahli kesehatan mengatakan bahwa penggunaan masker hanya perlu dilakukan oleh mereka yang sakit. Namun, kini penggunaan masker dianggap penting guna mencegah penularan virus dari mereka yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala.

Pandemi global yang dialami seluruh negara termmasuk Indonesia memberikan dampak besar yang luar biasa terhadap kehidupan semua orang.
Ya, banyak aktivitas dan kegiatan harian yang harus berhenti dan berubah total karena penyebaran virus corona yang tidak terkontrol dengan baik. Banyak pengangguran, banyak juga yang pulang kampung.

Upaya menjalani kebijakan karantina wilayah juga masih menjadi perdebatan.
Namun yang pasti, langkah untuk melakukan social-distancing terus didorong untuk menghambat penyebaran virus.

Kebijakan melakukan social-distancing atau yang juga banyak dikenal sebagai physical distancing sebenarnya bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus.

Jika penyebaran virus bisa ditekan, harapannya fasilitas dan tenaga kesehatan dapat dengan baik merawat pasien yang terinfeksi dengan lebih optimal.

Sayangnya, hal ini ternyata masih belum bisa memberikan dampak yang negitu besar karena angka kasus positif baru di berbagai negara masih terus naik, termasuk di negara Indonesia, sampai-sampai PSPB diberlakukan di sejumlah daerah.

Itulah sebabnya, para ahli pun terus mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan menganjurkan penggunaan masker. Jika sebelumnya para ahli menyarankan penggunaan masker hanya dilakukan oleh mereka yang sakit, sekarang mereka menganjurkan pada semua orang untuk mengenakan masker.

Ini tidak diputuskan tanpa alasan. Kenyataan bahwa banyak orang terinfeksi yanpa menunjukkan gejala menjadi ancaman besar pada mereka yang berisiko tinggi.

Itulah sebabnya, jika semua orang menggunakan masker, harapannya penularan virus dari mereka yang tidak menunjukkan gejala dapat dihindari. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here