Beranda Editorial Toleransi dan Kerinduan Kaum Minoritas di Bulan Ramadan

Toleransi dan Kerinduan Kaum Minoritas di Bulan Ramadan

85
0
Ilustrasi toleransi warung makan

JCS – Hari pertama bulan Ramadan (kemarin), adalah untuk untuk meniti langkah hidup kita yang lebih baik; menjadi bulan yang suci dan penuh berkah. Semua tahu bahwa bulan Ramadan tentu mempunyai tujuan yang baik juga. Bagaimana tidak, di bulan yang penuh berkah ini banyak hal yang dilakukan dengan sebuah harapan yang mulia.

Umat Muslim di seluruh dunia berlomba-lomba dalam kebaikan mengumpulkan pahala, melatih diri menjadi manusia yang lebih bertaqwa, berperilaku lembah lembut, mencoba menahan hawa nafsu, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain itu, di bulan Ramadan ini umat Muslim didorong untuk menjalankan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dengan berpuasa yang memiliki banyak tujuan baik seperti menguji diri untuk lebih bersyukur, melatih pengendalian diri, memohon ampunan, membentuk akhlak mulia, mendapatkan pahala, mengharap syafaat di akhirat, melatih keikhlasan, dan tetap istiqomah.

Kurang lebih 29 hari ke depan, umat Muslim di seluruh dunia berpuasa sesuai yang diwajibkan. Di bulan Ramadan ini tentunya dipakai juga sebagai waktu-waktu untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal soleh sehingga banyak kebaikanyang disalurkan kepada sesama manusia.

Memasuki bulan puasa di Ramadan ini juga akan mempengaruhi pola hidup yang berubah, berpuasa tanpa makan dan minum, kemudian harus sahur sekitar pukul 03 pagi dan berbuka pada saat Magrib, kebiasaan yang berubah untuk umat Islam ini juga secara langsung mempengaruhi pola hidup kaum minoritas yang mencoba menyelaraskan hidup berdampingan umat Islam di Indonesia.

Pada bulan Ramadan, kita melihat banyak warteg, restoran hingga kedai makanan pada tutup atau setidaknya diberi tirai, kemudian orang-orang tidak makan dan minum di tempat umum.

Nah, di Indonesia sebagai penduduk dengan umat Islam terbesar di dunia, semuanya menyelaraskan untuk bisa berjalan beriringan dengan pola ketika berpuasa termasuk mereka dalam golongan minoritas.

Untuk sebagian orang terutama yang minoritas dan telah hidup belasan bahkan puluhan tahun dan berdampingan dalam keberagaman di Indonesia, tentu hal ini akan mudah untuk mereka bila harus menyesuaikan ritme kehidupan dengan mereka yang berpuasa.

Namun, ada beberapa harapan baik yang muncul dari keresahan non muslim. Sebut saja nama Pegi (34). Dimana ia ingin menyesuaikan dengan umat Islam di Indonesia. “Semoga ini sekaligus menjadi momentum ketika bulan Ramadan datang untuk umat Islam di Indonesia,” ujar Pegi kepada jurnalis, Senin (6/5/2019).

Sebagai orang yang melihat Islam dari “luar”, sebenarnya Pegi cukup lelah dengan adanya perpecahan di dalam umat Islam atas dasar perbedaan aliran dan mahzab, semuanya mengklaim aliran mereka sendirilah yang paling benar yang sekaligus menganggap kepercayaan orang lain adalah salah.

Dan yang paling menyesakkan sebenarnya ketika ada intervensi atau pemaksaan-pemaksaan atas kehendak golongan tertentu agar menyamakan diri dengan mereka.

“Dari yang saya dengar umat Islam di akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan, tapi apakah dengan perbedaan dan perpecahan ini akan mengutamakan pertikaian dan melupakan bahwa kita hidup sebagai manusia, bahwa dalam keberagaman kita mempunyai rasa yang jangan disakiti,” tuturnya.

Selain itu, terjadi polarisasi yang begitu jelas dari kontestasi politik yang sudah berlangsung 17 April kemarin namun belum mereda hingga sekarang dan bahkan memasuki babak yang baru. Baik pendukung 01 maupun 02 sepertinya sama-sama belum mau mengalah untuk meredam semua kebisingan karena pemilu 2019 yang lalu.

Seperti diketahui bersama, dalam kontestasi politik tahun ini terasa sekali bila unsur dan simbol agama (Islam) digunakan untuk kepentingan politik praktis yang menyebabkan mereka yang mendukung pasangan berbeda tidak bisa menjadi dewasa.

Padahal di dua pihak baik 01 dan 02 semua mempunyai hal yang sama, yakni sama-sama didukung dengan kekuatan unsur-unsur dalam Islam. Polarisasi karena dukungan politik ini membuat banyak orang menjadi buta dan secara brutal, mereka saling ejek, hina, menjatuhkan, dan segala macam ujaran kebencian keluar untuk mereka yang dirasa lawan padahal tidak saling mengenal.

Bila mereka yang seyogyanya satu agama saling bertikai dan ingin menang sendiri, bagaimana mereka ketika berhadapan orang yang berbeda keyakinan?

Bila aliran yang satu dengan yang lain dalam satu tudung agama yang sama saja saling menyesatkan dan menjatuhkan, bagaimana mereka melihat dan menghadapi orang yang berbeda dengan tudung agama mereka.

“Di bulan Ramadan, dari saya sebagai kaum minoritas merinduan sebuah harapan yang menjadi nyala kecil untuk kehidupan agar ketegangan karena perbedaan pandangan, mahzab dan dukungan politik bisa mengecil dan mereda agar kehidupan antar umat manusia bisa sama-sama bersinergi mewujudkan kebaikan yang indah,” tutur dia, penuh harap.

Selain itu, dia juga berharap agar semua orang bisa menjadi manusia dan mampu memperlakukan yang lain juga secara manusia meskipun berbeda pandangan, berbeda aliran, berbeda dukungan. “Tanpa harus melihat sesuatu sedang berhadapan dengan siapa, kita mempunyai identitas yang sama, manusia,” imbuhnya.

Sebuah harapan di bulan Ramadan semoga menjadi momentum bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat besar dengan keberagaman di dalamnya yang tidak bisa ditopang oleh satu pihak saja.

Oleh karena itu, bergandengan tangan meskipun berbeda dengan saling berbuat kebaikan tanpa harus merendahkan satu sama lain akan membuat Indonesia mempunyai nilai hidup yang kuat dan kokoh.

“Karena membuat bahagia orang lain adalah sebuah ibadah yang tertinggi, selamat menjalankan ibadah puasa,” ucapnya. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here