Beranda Religi Tarik Menarik

Tarik Menarik

87
0

JCS – Cabang ilmu filsafat analitas bahasa beradu argumen tentang kata baik. Mereka mencoba mendefiniskan apa arti baik. Mereka berkali-kali mencoba menjelaskan, apakah perbuatan baik itu. Dan hingga kini, belum di satu titik mereka bertemu.

Kaum hedonis, memberi arti kata baik adalah segala hal yang menyenangkan. Segala sesuatu yang menyenangkan adalah baik. Dan segala yang baik selalu bersifat baru. Dan yang lama, tentu sudah kadaluarsa. Lalu ada pula yang menganggap baik itu berarti banyak, luas, tinggi dan lain sebagainya.

Salah satu yang menjadi pendapat mayoritas adalah pendapat kaum agamawan. Mereka menyebutnya, baik atau perbuatan baik itu adalah sesuatu yang mengacu pada kehendak Tuhan. Baik, bagi golongan ini adalah segala sesuatu yang bersifat dan berorientasi pada balasan spiritual serta Ilahiyah.

Tapi perbuatan apa yang dimaksud Tuhan dengan kebaikan? Apakah kebaikan bersifat permanen dan tidak berubah? Apakah kebaikan selalu standar pada waktu dan di tempat yang berbeda?
Tak pernah ada jawaban yang satu tentang hal itu.

Kebaikan ternyata tak pernah bisa diterjemah, karena memang kebaikan tak terdiri dari bagian-bagian atau lapisan-lapisan yang bisa dipilih satu persatu dan dikuliti lembar demi lembar.

Kebaikan tak pernah bisa didefinisikan karena memang ia tak diam, selalu berubah, memiliki banyak komposisi dan pola tersendiri.

Satu perbuatan baik, di tempat dan waktu yang berbeda, bisa berarti sama sekali tidak baik, begitu juga sebaliknya.

Ketika kita berjihad di jalan Allah SWT, melawan hawa nafsu di satu tempat misalnya, selalu berada dalam posisi tarik manrik. Tentu saja hanya Allah yang Maha Tahu segala kebaikan mutlak dan semua keburukan absolut.

Nah, tugas kita yang hidup di zaman fitanah dan bencana ini adalah, selalu berhati-hati dan tak henti mentadaburi. Mana yang menyenangkan dan mana yang berarti kebaikan. Mana kebencinan dan mana keburukan. Mana sunnah mana bid’ah. Mana syirik mana tauhid. Sebab, banyak manusia yang ujung umurnya terjerembab karena hal-hal yang ia sangka sebagai kebaikan karena ia menyenangkan. Banyak orang yang mengaku/menyangka perbuatan itu baik. Padahal ia sedang berkutat dengan keburukan.

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan menguatkan kita; memberi ketawakalan dan ketulusan hati. Karena dengan ketulusan itu adalah bagaimana agar kesudahan kita menjadi bahagia dan terbaik. Ketulusan itulah yang akan mengantarkan kebahagiaan. Para Nabi mengajak umatnya berjuang untuk tauhid, bentuknya ibadah, beramal shalih karena Allah.

Nabi Nuh ‘Alaihi Sallam, menerima perintahNya bahwa Allah pantas dan wajib diibadahi. Tiada Tuhan Selain Allah. Pun Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berjuang dengan penuh kasih sayang untuk umatnya agar selamat dengan tauhid. Wallahu a’lam…*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here