Beranda Cianjur Selatan Tanaman Padi Sawah di Cisel Diserang Beurit

Tanaman Padi Sawah di Cisel Diserang Beurit

73
0

JCS – Para petani di Cianjur selatan (Cisel) sedang menanti waktu panin padi sekitar satu bulan lagi. Menurut para petani, pertumbuhan padi memang bervariasi karena proses pemeliharaannya berbeda, misalnya benih yang ditanam tidak sama dan waktu tanam pun tidak berbarengan. Benih padi Sadane, Lampung, 64, padi merah dan lainnya. Tanama padi yang pertengahan April dan akhir April lalu karena situasi air dan cuaca.

Tanaman padi tersebut dapat dipanen sekitar tiga bulan. Keluhan para petani saat ini, yaitu banyak hama tikus.

Petani di wilayah ini berhasil menangkap 10 tikus dengan jepretan tikus tiap harinya dalam sebulan terakhir. Tikus sawah itu terlihat sangat besar.

Pantauan di pesawahan Desa Sindangsari Leles, hingga saat ini belum ada upaya pihak terkait untuk mengatasi serangan hama tikus. Upaya ini sebetulnya diharapkan warga, misalnya ada gerakan penanganan dan pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) di wilayah ini.

Gerakan tersebut tidak hanya meminimalisir untuk membasi hama tikus, tapi juga hama lainnya seperti wereng coklat, ulat grayak dan blas. Namun hama tikus yang menjadi keluhan para petani Cisel saat ini.

Aki Nurdin (67) warga kampung Cikananga Desa Sindangsari Kecamatan Leles mengaku tengah menunggu panin padi, sebulan lagi. Imam masjid Cikananga tenga itu memiliki sawah yang cukup luas di beberapa tempat, di dekat rumahnya, di daerah Padangsari, Citangkolo dan wilayah Bojongherang Cihaur.

Aki Nurdin, di usia yang tidak muda lagi tetap semangat bekerja ke sawah setiap pagi untuk memelihara padi, meski pertumbuhan padi yang tinggal satu bulan lagi panen sedang banyak tikus.

“Aki nuju ngantos panen pare sakitar sabulan deui, mung kacek aya hama beurit. Populasi tikus musim tanam taun ieu asa leuwih loba, dibaning taun kamari,” tutur Aki Nurdin, Rabu (1/7/2020).

Petani lainnya, Mahfud (65) warga Desa Sindangsari mengatakan hal yang sama. Meski tanaman padi lagi banyak hama namun dia tidak patah semangat bekerja di sawah.

Mahfud mengaku telah dua bulan bercocok tanam padi di kawasan Padangsari. Perkembangan, kata Mahfud saat ini cukup bagus karena sudah dipupuk menggunakan TSP dan orea. Cuma masalahnya banyak hama tikus.

Mahfud berharap, mudah-mudahan hama tikus tidak mengagalkan waktu panen nanti.

“Panen, aya nu sabulan deui, margi danget ayeuna aya nu tos celetu, kaluar buah pare, mung asa jengkel kuhama beurit, tapi hama eta teras diakalan supaya ulah ngaganggu buah pare,” imbuh Mahfud.

Perkiraan warga meledaknya populasi hama tikus ini diduga karena terganggunya hewan pemangsa alami tikus, seperti ular dan burung hantu. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here