Beranda Ekonomi Resesi Ekonomi Membayang di Depan Mata, Solusinya?

Resesi Ekonomi Membayang di Depan Mata, Solusinya?

18
0

JCS – Resesi ekonomi Indonesia semakin membayang di depan mata. Menkeu RI Sri Mulyani mengaku keuangan APBN mengalami depisif sampai Agustus 2020 karena pertumbuhan ekonomi antara 1,1 persen hingga 2,9 persen. Kondisi demikian dampak covid-19 yang memukul seluruh aspek perekonomian.

Jelasnya, Indonesia akan mengalami resesi karena pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 diprediksi kembali minus hingga 2,9 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah pandemi corona hingga akhir tahun akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga 0,6 persen.

Pandemi virus corona berdampak besar pada sektor ekonomi, dimana sejumlah negara pun mengalami resesi.

1 September 2020, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan, berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Para ahli menyatakan, resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk demostik bruto (PDB) negatif, tingkat pengangguran meningkat, penjualan ritel turun, serta ukuran pendapatan dan manufaktur menyusut dalam jangka waktu yang lama.

Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Rahdi menjelaskan, secara teoritis suatu negara dikatakan resesi, salah satunya disebabkan pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut berada di nilai minus.

Indikator lain suatu negara mengalami resesi ada pada inflasi dan nilai kurs rupiah.

Penyebab resesi:
Ada lebih dari satu penyebab untuk memulai resesi, dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba hingga dampak inflansi tak terkendali.

Wabah virus corona yang mematikan ekonomi seluruh dunia, menjadi contoh terbaru dari guncangan ekonomi tiba-tiba.
Ditambah utang yang berlebihan. Saat individu atau bisnis mempunyai terlalu banyak utang, hanya membayar utang dapat meningkat ke titik di mana pengutang tak dapat membayar tagihannya.

Lantas, pengambilan keputusan investasi didorong oleh emosi, membuat ekonomi yang buruk dapat terjadi.

Investor dapat menjadi terlalu optimis selama ekonomi kuat.
Kegembiraan irasional menggembungkan pasar saham atau gelembung real estat, di mana saat gelembung ini meletus, panic selling dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.

Inflasi:
Inflasi merupakan tren harga yang stabil dan naik dari waktu ke waktu. Inflasi yang berlebihan menjadi hal bebahaya.

Deflasi:
Meskipun inflasi tak terkendali dapat membuat resesi, deflasi bisa menjadi lebih buruk.

Deflasi terjadi saat harga turun dari waktu ke waktu, menyebabkan upah menurun dan menekan harga.

Perubahan teknologi:
Penamuan baru meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang, tapi mungkin terdapat preiode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi.

Dampaknya menurut Fahmy, resesi akan bepengaruh pada pasokan atau supply barang yang menurun secara drastis, tapi permintaan tetap.
Sehingga, harga akan naik dan memicu inflasi. Inflasi yang tak terkendali membuat daya beli masyarakat menurun, menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin terpuruk.

Selain itu, resesi dapat meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan.
Ekonomi Institue for Developmend and Finance (INDEF) Bhima Yusidhistira Adhinegara menjelaskan, resesi akan berdampak secara langsung terhadap daya beli masyarakat yang menurun.

Hal ini mengartikan kebutuhan masyarakat dan pendapatan tak sebanding. Resesi juga akan membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai sektor.

Apa yang bisa dilakukan?
Bisnis di bidang digital menjadi salah satu hal yang menjanjikan di masa sulit, lantaran masyarakat banyak memenuhi kebutuhan melalui platform digital.

Bagi karyawan, sebaiknya tidak agresif pindah pekerjaan sebelum ada kepastian bahwa pekerjaan yang baru lebih stabil.
Untuk sektor usaha, pertimbankan rencana ekpansi.

Dana cadangan:
Besaran dana cadangan sebaiknya dijaga 3-12 kali pengeluaran bulanan dalam bentuk liquid.
Dana cadangan menjadi semakin penting dan jangan digunakan untuk hal lain.

Sedangkan menurut Bhima, dana darurat setidaknya sebesar 20-40 persen dari pendapatan.

Tahan pembelanjaan besar:
Rencana untuk melakukan kredit kendaraan atau rumah perlu diperlajari lagi risikonya.
Jangan terlalu memaksakan, terlebih menggunakan dana cadangan untuk pembiayaan kredit ini.

Pengelolaan keuangan di masa resesi wajib diprioritaskan ke kebutuhan pokok meliputi bahan pangan, obat-obatan, tagihan listrik, hingga kuota internet.

Belanja kebutuhan pokok secara rutin:
Pembelanjaan kebutuhan rumah tangga menjadi hal penting yang dapat mendorong ekonomi dominan.
Pengalokasian dana ke investasi masih dapat dilakukan ke aset yang aman.
Aset-aset aman tersebut seperti emas, logam mulia, surat utang pemerintah, dan deposito bank dengan tenor jangka pendek (kurang dari dua tahun). (tas) (sumber Pro 3 RRI- Kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here