Beranda Editorial Pengaruh IPTEK terhadap Lingkungan Hidup

Pengaruh IPTEK terhadap Lingkungan Hidup

418
0
Ilustrasi

JCS – Bentuk kegiatan apapun kalau dengan IPTEK akan menjadi mudah. IPTEK mempunyai peranan besar terhadap lingkungan hidup disekitar kita, misalnya mengatasi permasalahan kerusakan lingkungan, memberikan kemudian manusia dalam mengerjakan permasalahan yang terjadi, serta menentukan jenis iptek yang sesuai dalam mengatasi kasus-kasus lingkungan hidup.

Kemajuan teknologi menjadikan kehidupan lebih mudah dan menyenangkan, tapi dampak negatif kemajuan itu juga tidaklah sedikit, misalnya juga polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemborosan sumber daya alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui.

Seandainya kemajuan teknologi hanya mengutamakan kecanggihannya tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya bagi kehidupan, maka kehadirannya bukanlah kemajuan tapi justru sebuah kemunduran. Teknologi yang merugikan bagi lingkungan adalah sebuah belati yang menikam dari belakang.

Kehadiran teknologi ramah lingkungan adalah solusi bagi kehidupan berkesinambungan yang dapat dipertanggungjawabkan, kebutuhan akan hal itu adalah mutlak. Jika tidak, maka hal itu akan menjadi beban berat bagi generasi berikutnya dimana mereka akan mewarisi sampah polusi dan segudang masalah lingkungan yang mempengaruhi lehidupan paling dasar.

Sayangnya, kemajuan teknologi ramah lingkungan ini masihlah hal langka (juga mahal, red), hanya dapat dinikmati dengan pengorbanan sumber daya yang besar dan oleh negara-negara maju saja. Sementara masyarakat berkembang masih kesulitan mengakses teknologi semacam ini. Apalagi ke pedesaan. Padahal, banyak sumber daya alam dan pendukung kehidupan bumi berbasis di negara-negara berkembang. Sehingga terdapat kesenjangan antara usaha pelestarian lingkungan dengan penerapan teknologi yang mendukungnya.

Kesenjangan ini hanya dapat diatasi jika negara maju memberikan kemudahan bagi negara berkembang untuk mengakses teknologi ramah lingkungan yang mereka hasilkan seluas-luasnya. Sehingga ada sinkronisasi antara pelestarian lingkungan dengan teknologi yang digunakan. Jangan sampai ketika negara berkembang dapat meningkmati teknologi ramah lingkungan pada saat itu lingkungan sudah terlanjur rusak atau terpolusi parah, hutan telah habis, air tercemar, bahkan air sudah sulit; udara kotor, sampah menumpuk, sumber daya alam menipis drastis, dan manusia sedang sakit-sakitnya menghadapi gejala perubahan iklum global.

Tentu ironis sekali ketika sebuah mobil hybrid yang ramah lingkungan melintas di sebuah kawasan, dimana di salah satu sudutnya terdapat sampah yang menumpuk, display pencatat kondisi udara menunjukkan kandungan CO2, yang tinggi, air kekuningan melintas di sungai yang tak ada lagi ikannya, dan disalah satu rumah sedang terbaring anak yang sakit karena udara kotor.

Permasalahan Illegal Logging:
Kegiatan penebangan liar atau disebut illegal logging memang permasalahan yang sangat berat di Indonesia, bagaimana tidak, permasalahan ini memang tidak henti-hentinya bisa diselesaikan oleh pemerintah. Karena banyaknya orang yang ingin merusak lingkungannya sendiri demi keserakahannya sendiri.

Nah, beberapa laporan yang saya himpun dan mencoba mengkuantifikasikan, meskipun berdasarkan data perkiraan. Tahun lalu, angka laju penebangan hutan lebih 2,7 juta ha/tahun, dan menduga kehilangan hutan dataran rendah di Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan selama belasan tahun.

Dampak sosial dan ekonomi meliputi tingginya tingkat hutang yang dimiliki oleh industri perkayuan, kemungkinan kerugiannya setara dengan satu tahun fiskal bantuan luar negeri (sekitar 6,0 milyar USD), dan cendereung meningkatkan pengangguran (langsung dan tidak langsung mempengaruhi 20 juta orang) jika pemerintah mengurangi kegiatan penebangan liar, akan mengakibatkan kerusuhan sosial.

Ada dua aspek penting IPTEK yang dapat berperan dalam masalah illegal logging:
1. Aspek preventif (pencegahan)
Aspek preventif ini dapat dilakukan pemetaan dengan satelit (penginderaan jauh).

2. Aspek kuratif (rehabilitasi) dengan bioteknologi, yakni membiakkan benih-benih kayu khusus atau yang masih diperlukan sampai dengan 15 tahun. Hal ini memerlukan waktu penelitian sekitar 4 tahun untuk temuan bibit baru. Pemerintah, dapat berbuat sesuatu alias pemberantasan penebangan kayu secara illegal.

Jika tidak, hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram.

Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saai ini kebanyakan terfokus pada sekedar liburan di pinggir pantai. Tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi, dan pembangunan resort.

Melihat dampak dari penebangan hutan secara liar tersebut, maka perlu adanya suatu cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan kontribusi dalam menyikapi adanya penebangan hutan tersebut dengan cara pendekatan secara neo-humanis. Yaitu, ada kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.

Penulis melihat, kalaupun ada LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), saat ini belum mampu menciptakan hutan kondusif, hanya sekedar memanfaatkan sisa-sisa kayu tebangan (kayu bakar, red) untuk dijual ke pabrikan dan lahan produktif bisa dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam dengan sistem tumpang sari.

Terkait hal itu, perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak terkait, seperti kerjasama antara Perhutani, Dinas Kehitanan dan Dinas Tenaga Kerja, dan lainnya, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilikinya. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here