Beranda INDEPTH Nonton ILC Bahas Buzzer, Koran Tempo Tidak Salah Menulis Berita

Nonton ILC Bahas Buzzer, Koran Tempo Tidak Salah Menulis Berita

63
0

JCS – Penggawa JCS sempat menonton talk show Lawyers Club (ILC) di TV-One, Selasa (8/10/2019) mulai pukul 20.15 sampai pukul 12.10 malam WIB.

Acara yang rutin (seminggu sekali) itu dipandu presiden ILC Karni Ilyas -benar-benar mencuri perhatian hadirin yang ada di studio maupun pemirsa di rumah.

Tampak para pembicara, diantaranya Menkominfo Rudiantara, Pemred Koran Tempo Budi Setyarso, Ali Mochtar yang juga ahli utama Deputi IV kantor stap Presiden Jokowi,
Dewan kehormatan PWI Ilham Hakim dan lainnya.

Acara bertemakan ‘siapa yang bermain buzzer?’.

Nah, jika memperhatikan narasi ungkapan beberapa pembicara sepertinya banyak menyerang Pemred Tempo, Budi Setyarso. Namun di akhir acara, Pemred Temo dibela dewan kehormatan Pers, Ilham Hakim karena media tempo dalam menulis berita buzzer tak ada unsur tendensius.

Pemred Tempo hadir di ILC, sebagai bentuk tanggungjawab atas berita soal buzzer yang dimuat medianya beberapa hari lalu.

Meskipun wartawan senior ini terus menerus diserang oleh beberapa pembicara seperti oleh Ali Mochtar, namun Pemred Tempo mampu menjawabnya dengan tenang karena apa yang ia beritakan berdasar fakta dan kaidah jurnalistik.

Sejauh pengamatan JCS bahwa kebanyakan pembicara di ILC cenderung tak faham tugas dan fungsi jurnalistik untuk kemajuan negeri ini. Pembicaraan yang menghantam pemred Tempo adalah orang-orang yang nota bene punya kepentingan urusan dunia, perut, dan bela kelompok, serta dinilai tak tahu ilmu jurnalistik sesungguhnya, apalagi pasal per pasal UU Pers.

Maka Pemred Tempo membeberkan tugas jurnalistik yang di beritakan Tempo tersebut. Dalam hal ini polemik buzzar yang terurai dalam koran tempo tidak ada maksud menyudutkan Presiden Joko Widodo dan pemerintah.

Tempo menulis sesuai dengan media independen. “Dengan itu negara akan lebih maju dan terhindar dari korupsi,” kata Budi di depan Menkominfo dan khalayk malam itu.

Menurut Budi, tulisan itu hanya sebuah indikasi-indikasi yang mendengungkan pemerintah. Kedua, kata Budi, fenomena bazar bisa merugikan publik karena akan mengaburkan simpatisannya.

Medium:
Budi mengutarakan pembaca di zaman sekarang akan lebih banyak menggunakan medium (media) digital seperti portal berita online. Berbeda dengan dulu, orang-orang memilih langgan media cetak atau koran.

Seiring zaman, lanjut Budi, pembaca tidak lagi tumbuh dengan media cetak atau koran dan TV, namun sekarang beralih ke media online. “Berita mediumnya bisa digital atau Youtube atau media digital,” ujar Budi.

Meski Tempo banyak ditekan, namun menurut Budi, pihaknya akan tetap mempertahankan nilai-nilai jurnalistik. Jika ada pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaan, itu bisa mengadu atau melaporkan kepada dewan pers.

“Proses hukum melalui dewan pers, tidak selalu dimenangkan pihak pers,” kata Budi.

“Dewan pers tidak konsen ke media sosial.”

“Kebebasan pers harus dijaga bersama. Kami pun tidak mengangkat fakta-fakta yang tidak jelas. Tapi tulisan menjelaskan fenomena yang terjadi.”

“Kalau kami difitnah itu sudah biasa dan sering kami terima, karena perbuatan itu hak mereka,” ujar Budi.

Ungkapan Dahnil:
Sementara itu pria berkaca mata, Dahnil berbicara tak mengarah kepada pemred Tempo tapi ia membeberkan soal pegiat media sosial yang saat ini kurang produktif. Maksudnya tidak original. Buzzar muncul karena beberapa faktor, misal masalah sisi ekonomi dan banyak orang menganggur sehingga muncul banyak buzzar.

“Ketika ketidakadlian muncul, maka buzzer itu akan datang dari buzzar-buzzar baru. Atau karena masalah hukum banyak yang tidak tuntas. Maka solusinya menurut saya ayo meninggikan percakapan yang berkualitas. Ke depan, kinerja pemerintah harus ditingkatkan. Cara ini salah satu solusi,” terang Dahnil.

Dewan kehormatan PWI, Ilham Hakim dengan lugas mengatakan karya-karya tempo adalah produk yang mematuhi kode etik yang benar. Tempo hadir di tengah-tengah masyarakat merupakan bagian integral negeri ini. “Saya perhatikan dan baca Tempo tidak ada kaper simbol-simbol negara,” tegasnya.

“Pers tidak kebal hukum. Tempo tidak alegri kritik.
Media juga membuka surat pembaca. Dan karakter pers akan berbeda dengan pegiat media sosial,” tambahnya.

Media-media yang independen punya konsep moral, dan itu, lanjut Ilham, yang harus dilakukan wartawan dan media.

Ilham menilai, masalah pengguna internet saat ini hampir cukup besar. S1-S3 80 persen, tapi produk-produk mereka lebih kecil. “Lima tahun ke depan, karya-karya tulisan mereka akan seperti apa, padahal mereka orang berpendidikan, kalau kenyataannya begini,” tandasnya.

Selanjutnya, pembicaraan Ketua II Persaudaraan Alumni (PA), Haikal Hassan melayangkan protes ke pembawa acara ILC soal tayangan video pegiat media sosial Ninoy Karundeng. “Seharusnya video Ninoy tidak ditayangkan terus menerus atas penganiayaan orang, sehingga muncul framming bahwa Ninoy tengah dianiaya oleh suatu kelompok,” kata pria yang suka ceramah ini seraya minta izin kritik bahas buzzer siapa yang bermain?

Ia meminta agar pihak ILC juga mau memunculkan pengurus masjid Al-Falah, lokasi dimana Ninoy mengalami tindak aniaya. Itu tampilkan juga dong,” ucapnya, disambut tepuk tangan gelak tawa campur serius.

Berikut analisis medsos Ismail Fahmi mengemukakan (menjawab) perihal mana antara kubu pilpres 2019 yang memiliki buzzer terbanyak, itu setelah ditanya Karni Ilyas soal jumlah partai dalam pemilihan umum yang mengarah buzzer.Ismail menyebut bahwa hal itu tak semua partai menggerakkan buzzer.

Dari catatan JCS, semula, polemik buzzer mencuat dari pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di media osial hingga menjadi sorotan akhir-akhir ini.

Kegaduhan pun membuka lebar-lebar, sampai-sampai pihak istana pun ikut berkomentar. Kejadian yang diciptakan buzzer terjadi setelah presiden menyetujui revisi UU KPK yang diusulkan DPR.

Buzzer habis-habisan membela kebijakan satu kubu yang tidak populer karena dianggap melemahkan KPK. Itu diunggah dalam medsos pada 13 September pukul 10.03 WIB.

Kembali soal talk show ILC:
Pada malam itu Pemred Tempo Budi Setyarso menjawab pertanyaan Ali Mochtar Ngabalin. Karena Ali menuding tulisan yang dimuat media Tempo mengandung unsur narasi tendensius terhadap Presiden Jokowi atas tuduhan Jokowi mengendalikan sendiri buzzer yang pro pemerintah.

Pengamatan JCS bahwa Ali Mochtar kurang faham ilmu jurnalistik untuk kemajuan negara ini.

Maka Pemred Tempo membeberkan alasan tulisan tersebut yang didengar seluruh rakyat Indonesia yang nonton acara ILC malam itu.

Menurut Budi, media yang ia pimpin sama sekali tidak tendensius dalam menulis berita buzzer. Budi mengaku medianya sekedar melakukan kritik yang tidak melanggar kaidah-kaidah jurnalistik. “Kami lakukan fungsi ini tidak berdasarkan niat buruk mencederai seseorang,” jelasnya.

Budi mengemukakan berita dalam (media, red) itu sesuai fungsi pers untuk ajukan kritik. Lanjut Budi, jika berita dianggap menginggung, itu tergantung penafsiran setiap pembaca.

Dalam acara semi debat tersebut diakhiri, atau giliran komentar Menteri Kominfo Rudiantara yang mengatakan buzzer tidak dilarang sepanjang tidak melanggar UU ITE. Rudiantara juga mengaku agak bingung dengan polemik buzzer di media sosial saat ini. Rudiantara menganggap buzzer tak ubahnya dengan influencer atau endorser. “Kalau yang dilarang itu konten-konten yang melanggar UU ITE. Saya sih lihat kontennya,” tutup Rudiantara. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here