Beranda Editorial Negara

Negara

110
0

JCS – Apa arti negara sesungguhnya? Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, penjelasan kata negara hampir menghabiskan satu halaman penuh. Satu dari sekian banyak penjelasan itu menyebutkan; negara adalah organisasi di suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Kalau letupan rakyat semakin terdengar saat ini, mungkin ada sesuatu yang kurang nyambung antara rakyat dan pemerintah. Kita-kira begitu!

Presiden, DPR dan semua elemen coba sadar untuk muhasabah diri? Jangan-jangan ada kerikil yang menghalangi hubungan itu.

Pembaca, kekuasaan tertinggi dan ditaati oleh rakyatnya. Di sini masalahnya. Kekuasaan tertinggi sebuah negara bisa lahir dan ada hanya dengan satu cara: Berdaulat penuh atas bangsa dan negaranya. Berdaulat artinya bebas dari tekanan, mampu berdiri di atas dua kaki sendiri, merdeka secara hakiki dan mandiri.

Tapi sayangnya, syarat dasar sebagai negara, kian hari kian jauh saja dari sebuah negara yang menyebut dirinya Indonesia. Kian hari, tekanan semakin besar, tapi parahnya negara ini kian tak punya daya untuk menahan. Berdiri di atas dua kaki sendiri pun, jangan-jangan kita sudah tak mampu lagi. Penyebabnya pertama banyak koruptor yang merusak uang negara dan rakyat. Kedua, betapa susah negara ini keluar dari cengkeraman tentakel alias perangkap Dana Moneter Internasional yang kian kuat menyekat. Bagaimana dengan kebaikan Tiongkok?

Merdeka secara hakiki dan mandiri pun dalam tanda tanya besar. Benarkah Indonesia sudah merdeka?

Mungkin 17 Agustus 1945, telah dibacakan proklamasi kemerdekaan. Mungkin setiap tahun kita merayakan kemerdekaan. Tapi apakah kita benar-benar sudah merdeka?

Bukankah kian hari hidup kian payah. Bukankah kita semakin tak berdaya sebagai negara. Lalu di mana letak kemerdekaan? Lalu penjelasan kedua; sebuah negara yang ditaati oleh rakyatnya. Ketaatan rakyat pada negara hanya bisa hadir dengan cara menyelenggarakan kesejahteraan. Sejahtera artinya terselenggara rasa aman dan terwujudnya kemakmuran. Hilangnya rasa takut berkait erat dengan kemampuan secara psikologis seluruh rakyat di sebuah negara. Sedangkan kemakmuran terikat erat dengan hajat hidup secara ekonomi yang madani.

Apakah rakyat negara bernama Indonesia yang kita cintai saat ini sudah merasa aman? Justru sebaliknya, setiap hari aksi unjuk rasa mahasiswa menyoal RUU KPK yang merembet pada RUU KUHP. Setiap hari kita selalu dihantui ketakutan.

Penduduk yang bermukim di bantaran sungai, setiap hari selalu takut pada pengusiran. Petani dan masyarakat di pedesaan prihatin sulit air bersih dan dilanda kekeringan; ketika panin atau hasil bumi tak laku dijual, atau murah. Buruh-buruh dibanyak perusahaan, setiap hari selalu bertanya-tanya kemana mereka pergi jika terjadi PHK. Guru-guru honor yang sudah puluhan tahun mengabdi mengeluh.

Apa arti negara bagi seorang rakyat Indonesia yang tinggal di Gunung Kidul? Bagi suku pendalaman di Lembah Baliem? Nelayan-nelayan di Pantai Utara, Selatan? Apa arti negara bagi orang-orang miskin yang terancam diusir dari kota-kota besar tempat mereka mengais nafkah? Prihatin. Negara tak berarti apa-apa bagi mereka. Jikapun ada, negara hanya berarti selembar KTP Elektronik dan pendataan semata. Bahkan, seringkali negara berarti monster bagi mereka. Negara tak menolong atau memberi solusi saat mereka diusir dan tergusur. Negara tak punya jalan keluar saat perusahaan-perusahaan yang menampung puluhan ribu tenaga kerja ditutup. Bahkan, terkadang negara sendiri yang berubah menjadi ancaman. Jika demikian, bagaimana ketaatan bisa lahir dari rakyat sebuah negara. Bagaimana mungkin kepatuhan bisa hadir dari rakyat yang selalu disengsarakan!?

Wahai para pejabat, wahai masyarakat, ingat sejarah! Kalahkan nafsu dengan memperkokoh beriman dan bertakwa. Mari bekerja untuk Allah, jangan cuma pandai bicara tapi produksi kerja melahirkan kedengkian dan permusuhan. Mari manfaatkan sisa hidup ini dengan kebaikan. Hidup di dunia sangat sebentar. Wallahu a’lam. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here