Beranda Renungan Menghadapi Wabah Corona?

Menghadapi Wabah Corona?

20
0

JCS – Wabah virus Corona dibilang ada memang tidak terlihat, disebut tidak ada memang banyak orang yang terpapar. Banyak pula orang yang dirapid tes. Sikond ini menguji semua kapasitas kita sebagai manusia. Covid-19 menyebar amat cepat. Dari kabar yang terdengar, sudah ratusan ribu orang terinfeksi di seluruh dunia. Puluhan ribu nyawa tewas akibat virus itu. Corona juga membuat banyak pengusaha gulung tikar. Para pekerja pun terpaksa harus di rumahkan. Para pencari kerja, tak sedikit yang akhirnya banyak memilih diam di rumah. Ojek online juga sepi orderan karena kebijakan bekerja di rumah, belajar para siswa-siswi sudah tujuh bulan banyak yang di rumah, daring atau luring.

Pergi Haji dan Umrah atau mau ke luar negeri terhambat. Kondisi demikian adalah ujian bagi orang-orang beriman dan sabar dalam kebaikan.

Musibah yang benar-benar kita hadapi saat ini. Masalah sebesar yang kita hadapi adalah ketidakpastian.

Meski kita yakin, Allah SWT pasti menciptakan penyakit sekaligus dengan obatnya.

Kesabaran menjadi senjata orang beriman dalam menghadapi ujian seperti ini. Allah SWT menggambarkan mereka yang bersabar dengan begitu banyak derajat dan kebaikan. Mereka pun dijanjikan imbalan yang begitu besar. “Dan sungguh Kami akan benar-benar memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96).

Tidak ada upaya pendekatan kepada Allah SWT melainkan pahalanya ditentukan dan dihitung kecuali sabar. Allah menjanjikan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah: 153).

Sabar adalah sebuah ungkapan mengenai teguhnya motivasi dalam menghadapi ujian dan hawa nafsu. Faktor agama ini merupakan segala yang mengantarkan manusia pada petunjuk. Faktor tersebut yakni makrifat kepada Allah dan Rasul-Nya. Pun makrifat mengenai berbagai kemaslahatan yang berhubungan dengan akibat-akibat perbuatan. Itulah sifat pembeda manusia dengan binatang dalam memutus syahwat.

Sedang motivasi hawa nafsu merupakan pelampiasan syahwat sesuai dengan tuntunnya. Maka dari itu, barang siapa yang menahan amarahnya untuk terus menentang syahwatnya, ia termasuk dalam golongan orang-orang sabar.

Jika seseorang kalah dan lemah hingga dikuasai oleh syahwat serta tidak bersabar untuk menolaknya, dia termasuk golongan pengikut setan.

Setiap hamba perlu bersabar pada segala hal yang menimpanya. Baik sesuai dengan keinginan maupun tidak. Ketika dia mendapatkan sesuatu seperti kesehatan, keselamatan, harta, kedudukan, keluarga, hingga pengikut, dia harus bersabar untuk tidak melepas liar hawa nafsunya dan tenggelam pada maksiat.

Tidak heran jika Allah SWT mengingatkan hamba-hambaNya terhadap berbagai ujian tersebut. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan janganlah pula anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir kepada Allah.” (QS. Al-Munafikqun: 9).

Berikutnya, ketika kita mendapatkan sesuatu tidak selaras dengan hawa nafsu. Adakalanya sesuatu itu berhubungan dengan ikhtiar hamba seperti ketaatan dan kemaksaiatan. Berikutnya, tidak berhubungan dengan ikhtiar tersebut seperti musibah yang kita hadapi sekarang.

Menurut Imam Al Ghazali, kesabaran itu memiliki kedudukan yang paling tinggi. Derajat kesabaran dalam musibah hanya dapat diperoleh dengan meninggalkan kesedihan yang amat dalam.

Adakalanya mereka menangis dengan raungan hingga menyalahkan takdir atas musibah yang dialaminya. Kesabaran membuat kita menjauhi perbuatan itu. Sikap ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala serta meyakini itu adalah titipan yang diambil kembali Pemiliknya merupakan sikap terbaik sebagai hamba. Wallahu a’lam. Semoga wabah ini diangkat oleh Allah SWT. Semoga pula banyak hikmah yang didapat dibalik ujian mendera ini. Amiin…*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here