Beranda Berita Mengantisipasi Penyebaran Covid-19 Gelombang Kedua

Mengantisipasi Penyebaran Covid-19 Gelombang Kedua

33
0

JCS – Pemerintah Kabupaten Cianjur harus fokus mengantisipasi penyebaran virus corona pada gelombang kedua, apalagi telah dibukanya sejumlah obyek wisata. Demi menjaga kesehatan pengelola wisata maupun wisatawan maka semua wajib mengikuti protokol kesehatan ketat.

Seperti diketahui, tempat-tempat wisata di Kabupaten Cianjur mulai dibuka untuk para pengunjung. Nah, seiring suasana pandemi Covid-19 membuat khawatir sebagian masyarakat akan ancaman wabah tersebut. Apalagi pemerintah dan berbagai pihak telah kerja keras mencegah penyebaran virus tersebut.

Berikut pesan dari Juru Bicara Informasi dan Koordinasi Covid-19 Cianjur dr Yusman Faisal mengenai antisipasi penyebaran virus di tempat wisata maupun pusat perbelanjaan Cianjur saat suasana wabah ini.

Menurut Yusman, dengan dibukanya tempat wisata di Cianjur membuat wilayah rentan menjadi zona kuning atau bahkan merah.

Yusman mengatakan, pihaknya berupaya membatasi kunjungan ke tempat wisata terutama dari wilayah zona merah. “Upaya kami (Satgas Covid-19 Cianjur) membatasi jumlah wisatawan dan sebatas warga lokal, bukan dari luar Cianjur,” kata Yusman saat dihubungi, Senin (29/6/2020).

Mereka yang masuk lokasi destinasi wajin mentaati anjuran pemerintah, yakni mengikuti protokol kesehatan.
Menurut Yusman, tidak hanya masuk tempat-tempat wisata namun juga di pusat keramaian seperti di swalayan dan pasar tardisional. “Upaya ini sebagai upaya memutus rantai penyebaran virus terutama pada gelombang kedua yang seharusnya diminimalisir,” kata dia.

Sikap pada normal baru:
Saat diberlakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dan menjelang penerapan normal baru, orang tanpa gejala atau reaktif dari wabah itu menjadi tantangan bagi semua, maka tugas bersama bagai mana agar wilayah ini tidak mudah dimasuki wabah, sebab wabah sulit dideteksi. “Kondisi itu tantangan bagi semua daerah agar tidak kembali dalam zona merah,” tegasnya.

Menurut Yusman, ketika AKB dan normal baru diterapkan pasti akan ada risikonya, karena pola penerapan kesehatan di rumah mereka longgar. Hal ini, kata Yusman menjadi perhatian khusus bagi satgas, maka harus dilakukan deteksi dini yang melibatkan pengelola wisata. “Karena itu pengelola wisata maupun perusahaan (pusat perbelanjaan) harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan,” pesan dia. (sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here