Beranda Religi Memimpin Mengedepankan Cinta dan Keberanian

Memimpin Mengedepankan Cinta dan Keberanian

30
0

JCS – Sebelum menguraikan sedikit kisah Rasulullah SAW kala itu, saya mencoba mengilustrasikan kendaraan atau pengendara sepeda motor yang berada di depan lampu merah pengatur lalu lintas.
Ya, saat mengendarai motor di depan stopan lampu merah, ia pengendara pertama yang melewati garis putih dan terus maju ke depan, maka akan banyak diikuti oleh pengendara-pengendara lain di belakangnya. Padahal, lampu masih berwarna merah.

Ini baru keberanian konyol yang memimpin laku salah. Kini bayangkan jika keberanian itu beralih untuk memimpin kebaikan. Tak mudah memang, tapi bagimana pun, para calon-calon pemimpin yang dengan berani memimpin perbuatan baik, pasti akan menemukan pengikut-pengikutnya.

Percayalah, yang Anda butuhkan hanya keberanian untuk mengubah keadaan.
Dan kelak, Anda bisa bebangga, tidak saja karena berani, tapi juga karena Anda telah memimpin sebuah kebaikan, bagaimana pun kecilnya. Maka, beranilah berbuat baik dan benar.

Jadi, keberanian harus menjadi pilar kokoh yang menopang perjalanan. Keberanian, itu alasan lain yang coba saya gali dari kehidupan Rasulullah Shallau ‘Alaihi Wa Sallam. Sebuah fase yang membuatnya dicintai dan diikuti, tidak saja oleh orang-orang dari bangsanya sendiri yang datang dari masanya sendiri, tapi juga oleh manusia dari bangsa lain dan zaman yang lain lagi. Hingga kini, hingga di seluruh bawah naungan langit.
Selain cinta, keberanian juga membuat orang-orang mencintai dan mengikuti.

Keberanianlah yang memimpin orang-orang untuk jadi pemimpin. Seharusnya, begitulah para mencontoh dan mengikuti. Memimpin degan berani. Keberanian akan melahirkan pengikut. Keberanian akan memandu manusia-manusia lain, untuk di pimpin.

Dan Rasulullah SAW berucap zamiluni, zamiluni pada istrinya, Khadijah, ketika usai didatangi Jibril AS saat wahyu pertama. Beliau meminta istrinya tercinta itu untuk menyelimuti tubuhnya yang mengigil. Tidak saja dan karena cuaca, tapi lebih karena rasa ketakutan yang menderanya sebagai manusia.
Tentu saja beliau takut pada mulanya. Sebagai manusia, tentu saja ketakutan itu wajar dan bisa dipahami. Bukan saja kedatangan Jibril, tapi juga bayangan Muhammad tentang sesuatu yang diterimanya dan pesan di balik itu semua. Sebuah wahyu, sebuah titah, sebuah pesan untuk memimpin untuk manusia dengan risalah kenabian dan membawa Islam.
Tapi ketakutan itu tak hinggap lama, sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing langsung dengan wahyu-wahyu berikutnya. “Hai orang yang berselimut, bangunlah…, (QS. Al-Muzammil: 1). Maka selimut pun dicampakkan, karena risalah harus ditegakkan. Dan keberanian harus menjadi pilar kokoh yang menopang perjalanan. Semoga, calon-calon pemimpin di negeri ini, khususnya Cianjur, adalah calon pemimpin yang dilandasi cinta kebaikan dan niat mulia. Amiin… Wallahu a’lam. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here