Beranda Food Manfaat Petai?

Manfaat Petai?

211
0

JCS – Dalam artikel-artikel yang saya baca bahwa bua yang menyengat pada petai (orang Leles menyebut ‘peuteuy’) karena terlihat ‘ngaruntuy-ruruntuyan dan ada baunya.

Petai katanya mengandung zat seperti exathionine, tetrathiane, trithiolane, pentahionine, pentathhioacane, dan tetrathiepane yang terkandung di dalam petau.

Agar bau yang menyengat setelah makan petai ini bisa hilang, maka kita bisa mengunyah sedikit bubuk kopi atau buah mentimun selama beberapa menit.

Selain itu, bisa juga dengan merebus petai sebelum dimakan untuk memngurangi baunya.

Manfaat Petai:
Dalam dunia kesehatan, petai mengandung zat besi yang dapat mengobati anemia atau kurang darang.

Bagi orang yang sedang mengalami sembelit atau susah buang air besar juga dapat mengonsumsi petai, karena petai mengandung banyak serat. Tidak hanya itu, biji petai juga kaya akan mineral penting bagi tubuh, seperti kalsium, fosfor, magnesium, mangan, dan kalium.

Bentuknya:
Buah petai bentuknya berpolong dan bebiji-biji yang terdiri dari 7-8 polong.

Ketika masih muda, bijinya agak lunak, tetapi setelah menjadi tua akan berubah menjadi lebih keras.

Pada waktu muda, biji buah petai segar menghasilkan bau yang menusuk ini dilapisi kulit tipis berwarna putih.

Dan ketika sudah tua, buah petai akan dilapisi kulit yang berwarna agak gelap dan berlendir berwarna kekuning-kuningan, iya khan? Ini juga sering ditumbuhi cendawan putih.

Kulit buah petai berwarna hijau ketika masih muda dan berubah menjadi cokelat kehitaman setelah tua.

Harga petai:
Kalau di kampung, seperti di Cianjur selatan rata-rata pertiga biji/papan Rp10 ribu bahkan lebih, tapi kata mang Oden, ada peuteuy ada petai. Intinya sama saja petai. “Petueymah meujeuhna rumamis keur ngora, can asup kana kolot, anu paranyang peuteuy gebbang galede isi na, ari pete mah rada pait soalna laleutik parenek, tapi sami jenis peuteuy keneh,” kata Oden warga Cibungbulang Leles, Senen (21/10/2019).

“Ibarat buah huni. Aya huni gede anu buahna garede, huni sedeng, teras huni pang leutikna nyaeta nam-nam alias huni pare, janten aya tilu rupa buah huni. Rasana haseum ngan kacek aralit. Tapi sami huni-huni keneh,” tutur ka Oden menambahkan dan mencontohkan rupa-rupa huni dan peuteuy. (tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here