Beranda Religi Lidah

Lidah

242
0
Ilustrasi

JCS – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah membaguskan dan menyesuaikan wujud fisik manusia, mengilhaminya cahaya iman, sehingga menjadi perhiasan dan mempercantik dirinya dan mengajarinya kemampuan memberikan penjelasan. Sehingga menjadi alasan untuk mengunggulkan dan mengutamakannya, serta membekalinya dengan lidah yang bisa menjadi alat untuk menerjemahkan apa yang terkandung di dalam hati dan akal pikirannya.

Shalawat dan salam tercurah untuk Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga dan para sahabat…

Pembaca JCS, lidah adalah salah satu karunia Allah yang sangat agung dan salah satu keajaiban ciptanNya yang menakjubkan. Karena bentuknya kecil, tetapi ketaatan dan dosanya sangat besar. Sebab kupur dan iman tidak bisa dibedakan dengan jelas tanpa kesaksian lidah. Sementara keduanya adalah puncak ketaatan dan kedurhakaan.

Barangsiapa yang melepaskan manisnya lidah dan membiarkan tali kekangnya mengendur, setan akan membawanya ke segala medan dan menggiringnya ke bibir jurang yang dalam hingga memaksanya binasa. Dan tidaklah manusia diceburkan ke dalam api Neraka, melainkan buah dari lidah mereka. Kalau zaman sekarang mungkin sama dengan jempol. Karena jempol kita suka digunakan mijit abjad handphone menuliskan kata atau berita.

Tidak ada yang selamat dari keburukan lidah kecuali orang yang bisa mengekangnya dengan kendali syari’at (agama). Ia tidak mau melepaskannya kecuali untuk sesuatu yang bermanfaat baginya di dunia dan Akhirat. Dan ia akan menahannya dari segala sesuatu yang bisa mengancam keselamatannya di dunia dan Akhirat.

Dalam sebuah Hadis riwayat Mu’adz radiyallahu anhu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam Neraka di atas muka atau hidung mereka tidak lain adalah buah dari lidah mereka?” (Ihya’ Ulumuddin, Jami’ul Ulum Wal Hikam, Fathul Bari).

Yang dimaksud dengan ‘buah dari lidah’ ialah balasan dan hukuman atas ucapan yang diharamkan. Karena dengan ucapan dan perbuatannya manusia menanam kebaikan dan keburukan. Lalu pada hari Kiamat ia akan menahan buah dari apa yang ditanamnya. Siapa menanam kebaikan dengan ucapan atau perbuatan, ia akan memanen kemuliaan. Dan siapa yang menanam keburukan dengan ucapan atau perbuatan, ia akan memanen penyesalan.

Secara lahiriyah Hadis riwayat Mu’adz bin Jabal ra itu menunjukkan bahwa yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam Neraka ialah lidah mereka. Karena maksiat ucapan meliputi berbicara atas nama Allah tanpa dilandasi ilmu. Dan ini rekan sejawat syirik. Dan juga meliputi kesaksian palsu, sihir, tuduhan berbuat zina dan dosa-dosa besar atau kecil lainnya, seperti berbohong, menggunjing dan mengadu domba. Bahkan pada umumnya segala macam perbuatan maksiat selalu diiringi dengan ucapan yang mendukungnya.

Pembaca JCS ada banyak Hadis yang menerangkan keutaman diam. Antara lain Hadis riwayat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi radiyallahu ‘anhu yang pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam: “Ya Rasulullah, apa yang paling engkau khawatirkan terhadap diriku?”

“Ini” jawab beliau SAW sambil memegang lidahnya. (H.R. At.Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi; isnadnya shaih namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Pada Kitabul Imam dalam Shaih Al-Bukhari, Abu Daud, dan Muslim, Nabi SAW bersabda: “Orang muslim adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (gangguan) lidah dan tangannya. Wallahu a’lam bish-shawwab. Semoga lidah, hati dan pikiran kita selalu dibimbing dan dijaga oleh Allah ‘Azza wa Jalla.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here