Beranda Editorial Kompetisi Aktifitas di Era Modern

Kompetisi Aktifitas di Era Modern

64
0
People in a Meeting with Social Media Concepts

JCS – Para pembaca, mari belajar bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan yang menguasai segala sesuatunya baik yang ada di muka bumi ini maupun yang ada di langit. Sungguh merupakan penguasaan yang abadi.

Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang telah memperagakan suatu perilaku qur’ani untuk memberikan tauladan bagi umat manusia.

Sebelum Allah SWT menciptakan Adam sebagai manusia pertama, Allah SWT terlebih dahulu menciptakan alam semesta ini dengan sistem kerja yang teratur dan serasi. Semuanya berjalan menurut iramanya masing-masing manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya itu, Allah telah menurunkan kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman kepada rasul-Nya.

Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT yang terakhir diutus untuk menyempurnakan peradaban umat manusia.

Beliau telah mencontohkan suatu peradaban yang harmonis yang dibentuknya di masyarakat Madinah tempat aktifitas elemen-elemen masyarakat dapat berjalan beriringan secara tertib dan damai.

Terdorong oleh keinginan untuk turut serta membangun suatu tatanan kehidupan masyarakat yang lebih dekat kepada apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW, atau dengan kata lain suatu tatanan kehidupan masyarakat yang qur’ani, maka kami terus mengisi ruang publik yang di dalamnya banyak kandungan-kandungan al-Qur’an yang berhubungan dengan hiruk pikuk kegiatan masyarakat baik dalam kapasitasnya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial; baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan alam di darat di laut, maupun dalam hubungannya dengan Allah SWT sebagai sang pencipta.

Semoga tulisan ini menjadi motivasi bagi lahirnya aktifitas yang lebih mendekatkan kita kepada Sang Maha Pencipta, sehingga kita sadar bahwa hidup yang cuma sebentar ini mau bersyukur dan bersujud kepadaNya.

Heterogen:
Kita hidup di Indonesia yang didasari Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda agama, suku, adat dan golongan merupakan cerminan dari latar belakang mereka yang beragam. Hanya di Indonesia yang bisa hidup berdampingan dengan macam-macam agama, suku dan golongan. Indah kan? Maka pantas orang-orang asing dari Eropa maupun Timur Yengah ingin dan betah hidup di jagad raya Indonesia yang memiliki keindahan dari keberagaman itu, terlebih memiliki panorama alam di-setiap daerah (34 provinsi) yang penuh dengan keindahan.

Jadi, heterogenitas perilaku mereka ini merupakan cerminan dari latar belakang mereka yang beragam. Sekali lagi, Indonesia kaya dengan keragaman budaya, pemikiran, gaya hidup serta status sosial telah mewarnai keragaman perilaku mereka.

Nah, sebagai individu, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan tersendiri yang berbeda dengan manusia lainnya. Mereka hidup dengan identitasnya masing-masing. Namun dibalik perbedaan itu pada hakikatnya mereka memiliki persamaan yang kuat yaitu sikap saling membutuhkan. Hal ini karena kapasitas mereka sebagai makhluk sosial.

Keadaan saling membutuhkan inilah yang mendorong manusia untuk menciptakan suatu iklim kehidupan dengan berbagai norma.

Allah SWT telah menciptakan manusia dengan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Beragam aktifitas ini terkadang membuat manusia tidak mau saling mengenal. Sunatullah.

Hal ini karena ego dan sikap individualitas mereka yang tidak terkendali. Sunatullah juga.

Kompetisi aktifitas:
Dewasa ini kompetisi dari aktifitas manusia mulai dari segi ekonomi sosial, politik hingga pada hubungan antar individu kian tajam. Iya! Siapa yang lebih siap dan kuat maka ia akan survive. Suatu kondisi yang tidak jauh berbeda dengan hukum rimba. Namun, harus kita sadari hal itu sepenuhnya sebagai konsekuensi dari sebuah kompetisi. Di satu sisi memang akan memakan korban, tapi disisi lain dari kompetisi itu akan lahir suatu kemajuan karena dapat merangsang seseorang untuk terus mengasah potensi pribadinya, sehingga mampu berperan sebagai pelaku kompetisi yang mulanya sebagai penonton.

Kalau kita pahami secara mendalam, Islam sendiri telah mengajanjurkan adanya kompetisi, ‘fastabiqul khairat’ berlomba-lombalah kalian semua dalam kebaikan. Ini merupakan suatu lecutan semangat bagi kita untuk selalu menampilkan suatu aktifitas atau peradaban dalam skala yang lebih luas dengan sebaik-baiknya.

Dengan demikian, nampak jelas bahwa suatu aktifitas yang mapan dalam masyarakat mutlak diperlukan, karena kita menyadari sepenuhnya bahwa apa yang terjadi pada esok akan ditentukan pada hari ini. Untuk itu jika aktifitas-aktifitas seseorang, bagian dari aktifitas masyarakat, terjadi penyimpangan dari aturan Allah, maka hari esok merupakan kelanjutan dari penyimpangan yang terjadi pada hari ini. Jadi hari besok harus terbaik dari hari ini. Wallahu a’lam. Subhanakal laahumma wa bihamdika…*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here