Beranda INDEPTH Kegagalan Ajax Amsterdam ke Final Liga Champions

Kegagalan Ajax Amsterdam ke Final Liga Champions

84
0
Logo Liga Champions Eropa
Tim Ajax Amsterdam

JCS – Seperti diketahui para pencinta sepak bola, tim Ajax Amsterdam gagal ke final Liga Champions. Bermain di kandang Johan Cruyff ArenA, Kamis (9/5/2019) dini hari WIB, The Young Guns digasak Tottenham Hotspur 3-2.

Mereka tersungkur kalah produktivitas mencetak gol di kandang lawan. Pada leg pertama semifinal, Ajax menang 1-0 di markas Spurs.

Dilansir JurnalBola dan JCS dari Bein Sports, Kamis (9/5/2019), Lucas Moura jadi sosok pahlawan. Ia mencetak hattrick. Gol terakhirnya dicetak di menit terakhir laha.

Pemain Tottenham Hotspur, Lucas Moura

Ajax sempat unggul dua gol pada babak pertama lewat gol Matthijs de Ligt dan Hakim Ziyech. Keunggulan tersebut sayangnya tak mampu dimaksimalkan.

Mauricio Pochettino melakukan perubahan strategi jenius pada babak kedua. Tottenham Hotspur bermain lebih ganas untuk kemudian mencetak tiga gol.

“Saya sudah bilang kepada Anda tahun lalu. Saya bilang ke setiap orang bahwa Tottenham Hotspur sekumpulan pemain yang berstatus pahlawan,” ujar Mauricio Pochettino usai laga.

Mauricio Pochettino

Matthijs de Ligt tak bisa menutupi kekecewaannya. “Ini menjadi sebuah mimpi buruk. Kami bermain bagus pada babak pertama, kami menguasai segalanya. Kami begitu dekat ke final, kemudian bola itu datang. Sulit dipercaya.”

Tottenham Hospur bakal berjumpa sesama tim Inggris, Liverpool pada final Liga Champions yang akan digelar di Stadion Wanda Metropolitano, Minggu (2/9/2019) dini hari WIB.

Liverpool menanti Tottenham Hospur di final

Pelatih top Jose Mourinho yang menjadi pundit di Bein Sports sempat mengungkapkan analsisinya. Ia membedah kenapa Ajax Amsterdam bisa tersunggkur di kandangnya.

Jose Mourinho

Menurut Jose Mourinho, Ajax Amsterdam terlalu memaksakan diri memainkan sepak bola menyerang yang menjadi filosofi mereka saat unggul dua gol atas Tottenham Hotspurs.

Kata Jose, filosofi penting bagi sebuah klub. Para pemain perlu punya dan berlajar filosofi untuk membentuk karakter. Tapi dalam sepak bola juga soal strategi. “Menghadapi sebuah pertandingan maha penting, Ajax tidak melakukan hal itu,” tandas Jose.

Menurut pelatih asal Portugal itu, saat leading dua gol. Semestinya mereka merubah gaya main. Fokus pada pertahanan, menjaga keunggulan dibanding tetap bermain ofensif yang berisiko tinggi.

Dia paham jika mayoritas klub di Belanda, senang bermain menyerang. Hal itu, lanjut dia, sudah menjadi identitas mereka. Tapi Liga Champions bukan kompetisi domestik. Mereka menghadapi tim-tim yang gaya bermainnya berbeda.

“Mereka harus mengantisipasinya, mengalah untuk menang,” ujar Mourinho pelatih langganan peraih trofi itu.

Menurut mantan nakhoda Manchester United tersebut, walau unggul 2-0 pada babak pertama Ajax terlihat memiliki kelemahan, terutama dalam hal kedisiplinan bertahan.

“Kondisi itu dieksploitasi benar oleh Spurs. Dan sayangnya Ajax seperti tidak menyadari kelemahannya,” tuturnya.

Lini Belakang Ajax yang Keropos

Jose Mourinho menyampaikan pujian buat pelatih Ajax, Erik ten Hag, yang disebutnya melakukan pekerjaan bagus sepanjang musim ini. Ia sukses merubah Ajax menjadi tim super yang kompetitif di Liga Champions.

Pelatih Ajax, Erik ten Hag

“Tapi kritik saya, satu persen kekurangan dia adalah ia tidak memberikan sesuatu hal yang lebih pada pertandingan semifinal melawan Tottenham Hotspur,” hemat Jose.

Maksud Jose Mourinho, Erik ten Hag kurang cermat membaca arah permainan pada babak kedua. Saat timnya unggul 2-0, ia tidak melakukan perubahan apa-apa menutupi kelemahan-kelemahan mendasar.

“Saat tertinggal 2-0, secara harafiah Tottenham Hotspur akan melakukan segalanya untuk mengejar skor,” ujarnya.

“Hal tersebut harus diantisipasi. Erik ten Hag dituntut melakukan hal lebih pada babak kedua, sayangnya ia tidak melakukan itu,” ucap Jose.

Saat Tottenham mencetak gol pertama, disebut Jose Mourinho Ajax semestinya bereaksi cepat. “Lini pertahanan mereka terlalu longgar,” sebutnya.

Mereka memberi ruang bagi para penyerang Spurs masuk jantung pertahanan. Di sisi lain mereka tidak disiplin. Hal ini sejatinya sudah terlihat di babak pertama.

“Hal itu kami diskusikan di masa istirahat (Jose menunjuk John Barnes dan Ruud Gullit sesama komentator Bein Sports yang hadir dalam sesi diskusi), semestinya sesegera mungkin diperbaiki,” terangnya

Strategi Jempolan Mauricio Pochettino

Jose Mourinho menyebut sosok Mauricio Pochettino adalah kunci sukses Tottenham Hotspur melakukan comeback atas Ajax. Dan sosok yang layak mendapat kredit pada pertandingan ini adalah Mauricio.

“Ia melakukan hal luar biasa. Sekali lagi sepak bola menunjukkan bahwa filosofi kalah dari pramatis,” ujar Jose.

Mauricio Pochettino melakukan perubahan krusial yang merubah arah permainan. Ia memasukkan penyerang jangkung, Fernando Llorente, untuk mendukung permainan direct football untuk membongkar pertahanan Ajax.

Llorente jadi figur vital penyambung lini depan, tengah, dan belakang. Ia kuat dalam duel udara. “Sosok yang sempurna dalam strategi umpan-umpan diagonal. Ia jadi sosok tembok. Bek-bek Ajax terlihat kesulitan mengatasinya,” tambahnya.

Kehadiran Llorente membuat kerja Dele Alli, Christian Erikson, Son Heung-min lebih mudah. Permainan kombinasi di lini tengah lebih hidup.

Mereka tahu setiap bola yang disodorkan ke depan akan bisa dimaksimalkan Llorente. Dua gol Lucas berawal dari kemelut yang diciptakan penyerang asal Spanyol itu.

Pertahanan Ajax lembek

Konsentrasi pemain Ajax pun terpecah. Mereka menaruh perhatian lebih pada Fernando Llorente, sehingga Lucas Moura punya ruang bebas buat berkreasi.

Mauricio Pochettino sadar betul ia tidak bisa menembus pertahanan Ajax dengan strategi menggeber umpan-umpan vertikal. Serangan Spurs dimulai dari bawah. Di awali dari Jan Vertonghen.

Tim dan crew Ajax menerima kekalahan

“Kalau saya jadi pemain depan Ajax, saya akan memberi tekanan kepadannya. Sehingga aliran bola langsung Tottenham diantisipasi,” komentar Jose. (rus/sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here