Beranda Berita Ini Pengaruh Tindakan Presiden Prancais

Ini Pengaruh Tindakan Presiden Prancais

13
0

JCS – Sejak kemarin media sosial dibanjiri kritik terhadap Presiden Prancis Emmanuel Marcon dari sejumlah negara-negara barat hingga timur.

Reaksi protes dan kecaman penduduk dunia terhadap pernyataan Emmanuel Macron tentang Islam, telah meningkat.

Informasi dihimpun, hal itu dikarenakan setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mempertanyakan kesehatan mental Macron, sementara Muslim di beberapa negara menuntut boikot terhadap Prancis.

Erdogan mengatakan pada hari Minggu (25/10/2020), bahwa presiden Prancis telah “kehilangan akal sehatnya”.

Pernyataan itu mendorong menteri luar negeri Prancis memanggil pulang duta besarnya di Ankara.

Pernyataan Prancis tentang Islam diperdalam setelah Macron juga menyebut Islam sebagai teroris, setelah adanya pemenggalan seorang guru sejarah di Paris.

Umat Muslim percaya bahwa penggambaran Nabi adalah suatu penghinaan dan penghujatan.

Macron sebelumnya mengatakan tak akan melarang pencetakan karikatur Nabi Muhammad, yang sempat menimbulkan kontroversi, Kamis (22/10/2020).

Menurut Macron hal itu merupakan bagian dari kebebasan dalam berekspresi.

Di bulan ini, Macron menggambarkan Islam sebagai agama “dalam krisis” di seluruh dunia dan berjanji untuk mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember.

RUU itu diungkapkan Macron untuk memperkuat undang-undang yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Melansir dari Al Jazeera, kritik terhadap Macron datang dari Inggris, Kuwait, Qatar, Palestina, Mesir, Aljazair, Yordania, Arab Saudi, dan Turki.

Orang-orang mencurahkan perasaan mereka dengan tagar bahasa Inggris #BoycottFrenchProducts dan #Islam dan #NeverTheProphet dalam bahasa Arab.

Kampanye media sosial telah menyebabkan beberapa asosiasi perdagangan Arab mengumumkan boikot mereka terhadap produk Prancis.

Panasnya media sosial telah menarik para pemimpin dunia untuk mengeluarkan pernyataanya.

Ditambah lagi dengan sejumlah orang-orang di negara-negara mayoritas Muslim melakukan protes di jalan.

Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif mengatakan bahwa umat muslim selalu menjadi korban utama dari kebencian.

“Muslim adalah korban utama dari ‘kultus kebencian’, diberdayakan oleh rezim kolonial & diekspor oleh klien mereka sendiri,”

“Menghina 1.9 milar Muslim & kesucian mereka untuk kejahatan menjijikkan dari ekstremis seperti itu adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara oportunistik. Itu hanya menyulut ekstremisme,” katanya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan pada hari Senin (26/10/2020) memanggil duta besar Prancis di Islamabad untuk memintai penjelasan tentang pernyataan Macron.

“Benih kebencian yang ditanam hari ini akan mempolarisasi masyarakat dan memiliki konsekuensi serius,” kata Menteri Luar Negeri, Shah Mehmood Qureshi dalam sebuah pernyataan.

Langkah tersebut dilakukan sehari setelah Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menulis surat kepada kepala Facebook Mark Zuckerberg.

Dalam surat itu, Ia meminta Facebook tentang pelarangan konten Islamofobia, serupa dengan tindakan platform tersebut terhadap penyangkal Holocaust.

Qureshi mengatakan, Pakistan telah mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperhatikan dan mengambil tindakan terhadap narasi berbasis kebencian terhadap Islam.

Sementara itu, warga Suriah menggelar unjuk rasa pada hari Minggu kemarin di mana mereka membakar gambar Macron.

Beberapa dari mereka membakar bendera Prancis dan mencap foto presiden Prancis.

“Sebagai Muslim, adalah kewajiban kami untuk menghormati semua nabi, jadi kami mengharapkan hal yang sama dari semua agama lain,” kata Fatima Mahmud (56), menjelang protes di Tripoli.

Di Deir al-Balah di Jalur Gaza, warga Palestina membakar poster Macron, menyebut pernyataannya sebagai serangan dan penghinaan terhadap Islam.

“Kami mengutuk komentar presiden Prancis, dan siapa pun yang menyinggung Nabi Muhammad, baik melalui kata-kata, tindakan, gerak tubuh atau gambar,” kata Maher al-Huli, seorang pemimpin kelompok Hamas Palestina.

Di Lebanon, Hizbullah mengutuk penyataan Macron yang dinilai melakukan penghinaan yang ‘disengaja’ kepada Nabi.

Rabaa Allah, sebuah faksi pro-Iran di Irak, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa satu setengah miliar orang di seluruh dunia pada dasarnya telah dihina.

Fraksi itu memperingatkan bahwa orang-orangnya siap untuk menanggapi kapan dan di mana mereka mau.

Kementerian luar negeri Maroko juga dengan keras mengutuk pernyataan Maron dan juga terbitnya karikatur tersebut.

Menteri Urusan Islam Yordania Mohammed al-Khalayleh mengatakan bahwa, menghina nabi adalah bukan suatu masalah kebebasan pribadi tetapi kejahatan yang mendorong kekerasan.

Sementara itu, Jean-Luc Melanchon, ketua partai sayap kiri Prancis Unbowed France dan anggota parlemen, juga menyerang Macron.

“Macron benar-benar kehilangan kendali atas situasi. Dengan pernyataan Erdogan, Prancis direndahkan, dihina, dan diejek. Apa strategi Macron? Apa yang dia rencanakan selain bermain Twitter? ” ujarnya.

Tetapi presiden Prancis mendapat dukungan dari beberapa pemimpin komunitas Eropa.

Pada hari Minggu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Joseph Borrell mengatakan kata-kata Erdogan tidak dapat diterima.

Ia juga meminta Turki untuk menghentikan spiral konfrontasi yang sangat berbahaya ini.

Wakil Presiden Komisi Eropa, Margaritis Schinas juga menanggapi pernyataan tersebut, dengan mengatakan kekecewaannya.

“Maaf mengecewakan Anda, tetapi ini adalah cara hidup kami sebagaimana didefinisikan dalam Perjanjian kami, The European Way of Life,” katanya.

Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, juga mengatakan bahwa pidato kebencian yang menargetkan Prancis oleh pemimpin Turki tidak dapat diterima dan memicu kebencian agama. (Tas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here