Beranda Sains Iklim Antariksa: Kutub Selatan Semakin Menipis

Iklim Antariksa: Kutub Selatan Semakin Menipis

69
0

JCS – Akibat pemasan global dan faktor lain membuat jumlah es di Kutub Selatan semakin menipis. Pemanasan global luar biasa itu terjadi lebih dari tiga kali dalam waktu 30 tahun terakhir.

Beberapa tren suhu terbesar juga terjadi di planet ini dengan kontras regional yang kuat.

Sebagian besar Antariksa Barat dan Semenanjung Antariksa mengalami pemanasan dan penipisan lapisan es pada abad akhir ke-20.

Wilayah pendalaman yang terpencil dan tinggi di Kutub Selatan juga hanya mendingin hingga 1990-an, kemudian menghangat secara substansial.

Pemanasan yang terjadi cenderung dipengaruhi oleh perubahan iklim alami dan atropogenik. Namun, kemungkinan ada kontribusi individu dari masing-masing faktor belum dapat dipahami dengan baik.

Demikian hasil penelitian yang dipimpin profesor dari Universitas Ohio, Ryan Foght, dan alumni kampus, Kyle Clem seperti dikutif dari Sciencendaily, Sabtu (4/7/2020).

Hasil penelitian mengatakan periode pemanasan ini lebih didorong oleh variabilitas iklim tropis alam. Namun, ada kemungkinan pemanasan yang terjadi akibat penambahan gas rumah kaca.

Saat ini, Clem belajar tentang ilmu iklim di Universitas Victoria Vellington di Selandia Baru. Dia adalah anak didik Foght untuk mendapatkan gelar sarjana dan master di Universitas Ohino.

“Saya memiliki hasrat untuk memahami cuaca dan daya tarik kekuatan dan ketidakpastiannya,” kata Clem, dikutif dari Sciencendaily, Sabtu (4/7/2020).

Clem menceritakan pengalamannya, yaitu dia dapat mempelajari semua tentang Antariksa dan iklim Belahan Selatan, selama bekerja dengan Foght. Lebih khusus dia belajar bagaimana Antariksa Barat bisa memanas dan lapisan esnya menipis yang berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut.

Ia belajar ilmu tentang Antariksa, sehingga dapat memprediksi beberapa cuaca yang paling ekstrem dan variabelitas di planet. “Kita sebenarnya tahu sedikit tentang benua itu. Jadi ada kejutan dan hal-hal baru untuk dipelajari tentang Antariksa setiap tahun,” katanya.

Clem dan timnya menganalisis data satasiun cuaca di Kutub Selatan dan model iklim untuk memeriksa pemanasan di pedalaman Antariksa. Mereka menemukan antara 1989 dan 2018.

Kutub Selatan telah memanas sekitar 1,8 derajat celcius selama 30 tahun terakhir dengan laju peningkatan รท0,6 derajat celcius setiap dekade.

Hasil penelitian juga menemukan peningkatan suhu panas tinggi terjadi di bagian dalam Antariksa selama 30 tahun terakhir. Hal ini di daerah tropis, khususnya suhu selatan, hangat di Samudera Pasifik tropis barat yang mengubah angin di Atlantik Selatan dekat Antariksa dan meningkatkan pengiriman panas.

Clem dan Foght berpendapat tren pemanasan ini tidak mungkin merupakan hasil dari perubahan iklim alam saja. Ada faktor lain yang menyebabkan naiknya suhu Antariksa.
“Sejak awal saya dan Clem bekerja sangat baik dan mampu mencapai lebih banyak sebagai tim daripada kami secara individu,” ucap Foght. (sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here