Beranda Editorial Gelombang Tinggi Hingga 31 Juli

Gelombang Tinggi Hingga 31 Juli

38
0
Ilustrasi 
Belakangan ini warga di sekitar pantai selatan dibuat panik. Pasalnya, gelombang laut kidul meningkat tinggi. Puncak gelombang terjadi Rabu (25/7/2018) dengan ketinggian mencapai 3-4 meter. 
Bahkan air laut di pantai Jayanti Cidaun dan Sindangbarang mencapai 8 meter, sampai ke bibir pantai nyaris tumpah ke jalan raya Jabar selatan. Fenomena tersebut ada yang mengaitkan dengan fenomena gerhana bulan yang terjadi 28 Juli 2018, Jumat malam Sabtu dini hari. 
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Barat (Bandung) menyebut tingginya gelombang air laut karena adanya peningkatan kecepatan angin di Samudera Hindia. Peningkatan kecepatan angin tersebut kurang lebih mencapai 37 kilometer per jam. 
Menurut Ahli cuaca dan iklim yang juga Kepala BMKG Stasiun Geofisika kelas 1 Bandung, Tony Agus Wijaya penyebab meningkatnya kecepatan angin tersebut lantaran menguatnya angin timur atau angin tenggara dari benua Australia.
Disusul faktor perbedaan tekanan udara yang cukup tinggi antara belahan bumi utara dan selatan memicu meningkatnya kecepatan angin. “Itulah yang memicu kecepatan angin yang berdampak pada gelombang cukup tinggi,” kata Tony di Bandung, Sabtu (28/7/2018). 
Menurut Tony, puncak gelombang tinggi terjadi Rabu 25 Juli lalu disepanjang bahari atau pantai Jabar selatan dari Pangandaran sampai Pelabuhan Ratu. Tony memperkirakan gelombang laut cukup tinggi masih akan terjadi hingga 31 Juli. Seluruh wilayah di pantai selatan Jabar berpotensi gelombang tinggi. Di antaranya pantai selatan Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasik dan pantai Pangandaran timur. “Lima pantai itu berhadapan dengan Samudera Hindia,” kata dia. 
Untuk waktu gelombang, BMKG mengamati akan terjadi sepanjang hari hari dengan kecepatan angin yang konstan berkisar 37 km/jam. Menurut Tony, gelombang laut cukup tinggi ketika musim kemarau antara Juli hingga Agustus. “Nelayan dan wisatawan termasuk masyarakat yang beraktivitas di sekitar pantai agar lebih berhati-hati. Nelayan yang perahunya kecil jangan dulu melaut,” kata dia.
Adapun fenomena gerhana bulan, menurut Tony, pihaknya menilai hal itu tidak secara langsung dapat mempengaruhi. Sebab, gerhana bulan total yang terjadi 28 Juli adalah fenomena lumrah terjadi, dimana kondisi bumi, bulan dan matahari dalam posisi sejajar saat bulan purnama. “Gerhana bulan total merupakan peristiwa rutin terjadi setiap bulan purnama,” akhiri Tony. (tas/rus).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here