Beranda Renungan Cobaan

Cobaan

149
0

JCS – Buat kamu-kamu yang dilanda cobaan, ada banyak cara untuk kamu menjadi dewasa.

Kadang begitu, semudah membaca media Online atau media sosial (medsos) dan menemukan kearifan di dalamnya.

Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap peristiwa yang terjadi pada orang lain. Seperti sekarang banyak kejadian di negeri ini.

Tapi tak jarang, kita menempuh jalan yang begitu buat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita harus melewati sungai ujian dan cobaan yang berarus jeram. Membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar. Bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah.

Ada yang berhasil, tapi banyak yang gugur di tengah jalan. Orang-orang yang berhasil menjadi lebih arif sikapnya. Sedangkan mereka yang gagal, telah menjadi gusar, bahkan mereka melebihi sebelum cobaan itu datang.

Sumbu emosi mereka lebih pendek dan mudah terbakar. Mereka telah gagal melanjutkan perjalanan menuju kearifan dan kedewasaan.

Sungguhnya, perjalanan masih sangatlah panjang. Tapi mana mungkin perjalanan sangat panjang ini ditempuh dalam keadaan papa. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Tak mungkin perjalanan diselesaikan tanpa kemampuan menangkap hikmah, menyerap ilmu, apalagi berjalan tanpa ma’rifat kepada-Nya.

Hati yang gentar ketika cobaan datang, benak yang gusar pada cobaan, akal yang buntu dalam setiap langkah. Lalu kita akan menyerah sebelum perjalanan usai dan purna.

Semakin tinggi tingkat kearifan, maka semakin besar pula ujian menerjangmu. Selayaknya itu harus kita jadikan ukuran. Jika waktu lalu, cobaan yang datang, untuk kita selesaikan sama dengan cobaan yang kita hadapi sekarang, sungguh tak ada peningkatan apapun yang kita dapatkan.

Ketakutan memang sering menggalikan liang kubur untuk akal sehat yang kita perlukan. Rasa gentar pun sering mengabarkan jalan semu untuk menyesatkan. Jangan lari ketika fitnah datang. Jangan berpaling ketika cobaan menghadang. Jangan mengeluh ketika ujian tiba. Lewati saja. Tembus saja. Sejatinya, semua itu adalah pintu-pintu menuju kedewasaan.

Selama kita berpegang teguh pada tali Allah, sungguh tak ada yang perlu ditakutkan. Sepanjang kita tak bermaksiat kepada pencipta alam, tidak perlu gentar.

Tapi sebaliknya, jika kita bermaksiat kepada Allah, maka semua yang kita alami adalah awal dari kehancuran. Satu-satunya penyebab paling absolut sebuah kebinasaan adalah, karena kita bermaksiat kepada Allah. Jika sudah demikian, ketakutan akan mengepungmu. Keglauan akan menelikung setiap langkahmu. Dan perjalanan begitu berat. Tak ada jalan lain jika sudah begitu; segera bertaubat demi meraih ridha dan rahmat-Nya. Wallahu a’lam.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here