Beranda Editorial Busuk dan Baik

Busuk dan Baik

90
0
Ilustrasi mengusir jin yang suka bikin penyakit
Wargi JCS yang dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita Selalu berucap bersyukur, shalawat, dan banyak istighfar. 
Nah, terkait judul di atas seharusnya muncul rasa mual acap kali menemukan sebutan busuk. Sehrusnya kita menyingkir, menutup hidung atau setidaknya bergidik saat bertemu dengan sesuatu dengan yang busuk. 
Seharusnya kita tidak saja menghindar, tapi harus mengusir, menyingkirkan dan membasmi semua sumber yang menyebarkan bau busuk itu.
Tapi kadang-kadang, bahkan sering kali kita tak bisa melakukan itu semua. Padahal semua itu adalah fitrah. Kita dipaksa berkompromi dengan kebusukan. Kita terlibat dalam praktik yang busuk. 
Bahkan lebih parah lagi, kita tak lagi mencium dan merasakan kebusukan, entah kenapa. Bisa jadi kita acuh, bisa pula tak berdaya, atau jangan-jangan kita masuk angin alias sudah menikmati dan menjadi bagian dari kebusukan itu sendiri.
Nyaris kita tahu semua, siapa yang busuk, di mana yang busuk, atau apa yang busuk. Tapi lagi-lagi kita hanya tahu dan tak berdaya. Kebenaran menjadi lumpuh, tak menghasilkan apa-apa. Kebaikan menjadi mandul tak melahirkan apa-apa. 
Jangan abaikan nurani, jangan sekali-kali melibas fitrah. Cukup pengalaman gagal jadikan cambuk. Dan kebusukan harus diperangi. 
Wargi JCS, setidaknya ada tiga pangkal yang harus kita sepakati. Pertama, tentu saja memperbaiki individu kita sendiri. Kita harus mengubah diri sendiri menjadi lebah, mencari yang baik dan menghasilkan kebaikan walaupun di zaman ini sulit.
 Namun, kita tetap tak suka yang busuk dan hanya mencari wewangian. Takut dan merasa diawasi sama Allah SWT.
Setelah lahir individu-individu yang saleh baik secara personal maupun sosial, mereka harus menyerbu dan memperbaiki tatanan. Hukum harus dimantapkan, diperbaiki; sistem harus dipenuhi kebaikan, dan pemerintahan yang bathil harus diingatkan agar banyak kebaikan hingga melahirkan keberkahan. 
Karena, bagaimana pun baiknya sebuah sistem, masih saja menyisakan celah bagi orang-orang busuk untuk dimanfaatkan. Orang-orang baik seharusnya seperti ombak, tak kenal lelah menghajar karang untuk merebut mutiara pantai. 
Orang-orang baik harus berada di seluruh lapisan pemerintahan dan mengincar sesuatu yang harus mereka dapatkan. Orang-orang baik harus menyerbu dan mengusir kebusukan yang berbentuk apa atau siapa yang berada di mana jua.
Usai individu dan tatanan telah menjadi ladang garapan, selanjutnya membentuk masyarakat yang baik adalah impian. Tentu saja selalu ada hal-hal yang buruk, tapi membangun masyarakat yang baik sama sekali bukan utopia. Dan seharusnya, setiap Muslim lebih dari umat mana pun dalam hal ini. 
Sebab, Islam rahmatan lil’alamiin, penyelamat, kasih sayang, mengajak kepada seluruh mahkluk (alam) ini, tentunya bagi yang mau selamat di dunia yang sangat sebentar maupun Akhirat yang langgeng selama-lamanya. Jelas, kontras bahwa Islam adalah musuh abadi kebathilan.
Islam adalah  cahaya yang mengusir gelap. Islam adalah kekuatan yang mengenyakan kebusukan. 
Seharusnya, kita berada pada baris pertama, berdiri paling depan memerangi kebathilan. Seharusnya, kita berlari paling dulu dan bersiap lebih awal menghadapi kebusukan. Itu semua karena kita seorang Muslim yang percaya pada kebaikan Sang Maha Baik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mari kita menjadi bintang-bintang zaman yang dilandasi ilmu kebaikan. Dan itu tidak ada cara lain kecuali dengan niat yang tulus untuk menjadi hamba-hamba Allah yang mulia. 
Hamba yang selalu berbuat baik dan memerangi kebathilan. Hamba yang tak pernah gentar menyapu bersih kebusukan. Hamba yang tak kenal kompromi dengan segala bisikan setan. Allahu Akbar! 
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Segala puji hanya bagi Allah SWT Yang Maha Baik. Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Subhanakal laahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here