Beranda Pendidikan Bagaimana Nasib Pendidikan Jika Guru Banyak yang Gugur karena Covid-19?

Bagaimana Nasib Pendidikan Jika Guru Banyak yang Gugur karena Covid-19?

74
0

JCS – Masa libur sekolah cukup lama sekali di masa pandemi corona saat ini. Akhirnya, muncul perbincangan dan masukan dari berbagai elemen masyarakat mengenai segera masuk sekolah atau nanti dulu selama masa Covid-19, kalaupun masuk sekolah atau kegiatan belajar mengajar (kbm) secara tatap muka maka para siswa dan pendidik diwajibkan mematuhi protokol kesehatan ketat. Akan tetapi, pandangan dan komentar sebagian masyarakat banyak yang memilih jangan dulu masuk sekolah mengingat cengkeraman Covid-19 masih saja berlanjut.

Hal tersebut terungkap dalam perbincangan atau komentar para pendengar Pro 3 RRI, Minggu (23/8/2020) malam. Hal ini menyusul meninggalnya para guru (puluhan guru) di Indonesia selama pandemi, diduga akibat Covid-19. Dan selama pandemi berlangsung, jumlah guru meninggal tercatat 42 guru di Indonesia.

Perbincangan menarik di RRI mengangkat tema bagamana nasib pendidikan ke depan, dan mengenai masuk sekolah, menurut sejumlah penelepon, jika belajar lebih efektif secara daring, cara ini bisa dilakukan untuk sementara waktu atau masa pandemi.

Para penelepon PRO 3 RRI juga mendoakan para guru yang sudah gugur karena Covid-19, mudah-mudahan mereka yang telah meninggal mendapat ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Topik perbincangan seputar nasib pendidikan ke depan, dan bagaimana langkah ke depan jika para guru meninggal karena Covid-19?

Pernyataan FSGI:
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya 35 guru di Surabaya akibat Covid-19.

Mereka menilai kejadian ini merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang membuat guru, sebagai garda terdepan di sekolah, menjadi korban.

Berdasarkan data yang dihimpun FSGI, sampai dengan Agustus 2020 ini, setidaknya ada 203 guru yang dinyatakan positif Covid-19 di seluruh Indonesia.
Sementara, guru yang menjadi korban meninggal dunia akibat covid mencapai 42 orang.

Sekretaris Jenderal FSGI, Heru Purnomo mengatakan, data tersebut seperti puncak gunung es, artinya kemungkinan lebih banyak guru yang tertular Covid-19 tetapi tak terdata karena rendahnya dan tracing.

Selain itu, tidak ada transparansi terkait data penularan Covid-19, orang yang tertular, lokasi, waktu, dan klasternya.

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan perlindungan terhadap guru masih sangat lemah di masa pandemi ini.

FSGI mencatat hingga 18 Agustus 2020, sudah 42 guru dan dua pegawai tata usaha sekolah yang meninggal karena Covid-19. “Padahal, sebelum pandemi saja kita sudah kekurangan guru, kalau para guru tidak dilindungi, maka potensi penularan Covid-19 di lingkungan satuan pendidikan akan tinggi jika sekolah dibuka pemerintah daerah tanpa ada persiapan yang matang,” kata Heru dalam siaran persnya, Sabtu (22/8/2020).

Data terkini terkait guru yang terinfeksi virus corona, menurut Heru, itu di daerah Surabaya, DKI Jakarta, Payakumbuh, Garut, Pati, Balikpapan, Rembang, Kudus, Madiun, Kalimantan Barat, Pandang Panjang, dan Pariaman Sumatera Barat.

FSGI mengeluarkan empat rekomendasi:
Adanya tragedi itu, FSGI mengeluarkan empat rekomendasi merujuk pada kondisi penanganan pandemi Covid-19 saat ini.
Berikut empat rekomendasinya!

Pertama, Pemerintah Daerah maupun Yayasan Perguruan Swasta tidak mewajibkan guru masuk ke sekolah untuk melaksanakan pembelajaran untuk melaksanakan pembelajaran daring selama tugas-tugas pokok sebagai guru masih bisa dilaksanakan dari rumah.

Kedua, Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, agar melakukan pengawasan yang ketat dalam proses pelaksankaan Blejar dari Rumah maupun upaya pembukaan sekolah.

Jika diperlukan, agar memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar aturan, terutama dalam upaya pembukaan sekolah, dengan sanksi secara bertahap mulai dari sanksi ringan, sedang dan berat sesuai dengan tingkatan kesalahannya.

Bagi FSGI, langkah ini sangat penting mengingat kepatuhan yang rendah terhadap upaya pencegahan penularan Covid-19 di sekolah.

Langkah yang sama seperti penerapan sanksi bagi yang tidak memakai masker yang dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah. Langkah ini juga merupakan implementasi dari Inpres Nomor 6 Tahun 2020 bagi lingkungan pendidikan.

Ketiga, agar seluruh pihak Pemerintah, Pemerintah Daerah, sekolah, organisasi profesi, orang tua, dan masyarakat bersikap serius serta bersinergi dalam memberikan perlindungan bagi guru, terutama perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap resiko penularan Covid-19 yang mungkin terjadi di sekolah.

Keempat, FSGI juga meminta Kemendikbud bekerjsama dengan Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Daerah untuk melakukan swab test atau PCR test kepada guru-guru sebelum membuka sekolah atau kbm secara tatap muka. (sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here