Beranda Ekonomi & Pertanian Alamsyah Cipeundeuy Budidaya Ayam Petelur

Alamsyah Cipeundeuy Budidaya Ayam Petelur

326
0

JCS – Bisnis telur (dari ayam petelur, red) saat ini cukup menjanjikan. Sebab, permintaan pasar atas telur ayam ras putih maupun ayam cokelat ini masih terus meningkat dari waktu ke waktu.

Bisnis dan budidaya telur ini ternyata sedang dinikmati oleh pria asal Cipeundeuy Cibadra, Leles, Cianjur selatan. Yaitu Alamsyah SP.

Nah, sebelum menceritakan bisnis telur yang digeluti Alamsyah, terlebuh dahulu penulis ingin mengupas jenis ayam telur dan ayam pedaging.

Menurut ahli ternak unggas atau Agribisnis Ternak Unggas (ATU), bahwa ayam petelur adalah ayam betina dewasa yang dapat menghasilkan telur dalam jumlah banyak dan terus menerus.

Telur yang dihasilkan oleh ayam petelur ini dapat dibudidayakan untuk dijual. Apalagi, ada banyak makanan olahan dengan bahan dasar telur yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Ini memberikan peluang pasar yang bagus untuk bisnis ternak ayam petelur.

Lokasi kandangnya pun tidak asal berdiri tapi harus agak jauh dari pemukiman warga. Bentuk kanadang ada yang umparan (koloni) dan baterai. Keduanya memang memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Kandang umparan bisa menempatkan banyak ayam dalam satu kandang. Cuma telurnya akan berserakan di lantai. Maka itu perlu mengumpulkan telur-telur secara khusus.

Adapun kandang tipe baterai, membuat ruang gerak ayam akan lebih terbatas, sehingga ayam akan lebih fokus untuk bertelur.

Jenis telur dari ayam cokelat dan ayam ras putih: Telur dari ayam cokelat memiliki ukuran sedikit lebih besar dari ayam petelur putih, akan tetapi kandungan nutrisinya sama saja.

Risikonya:
Risiko yang sering dialami oleh peternak pemula adalah kurang rajin, malas, kurang ulet, dan lain-lain. Sifat inilah yang harus ditepis oleh pembudidaya ayam petelur. Karena penyakit seperti malas bin khoream itu bisa menyebabkan penghambat dari pertumbuhan bisnis ayam petelur.

Karena menjalankan ternak ayam membutuhkan kegigihan dan semangat pantang menyerah, agar bisnis dapat terus bertahan lama dan mendapat untung.

Alamsyah bisnis telur:

Alamsyah SP mengaku belajar meniti bisnis sampingan ini sudah lima bulan. Yaitu ketika dirinya tinggal di Jajawai Desa Pusakasari, Leles. Ia sekarang belajar mandiri di Sukarama bersama keluarga. Untuk lokasi kandang ayam petelur dipusatkan di Sukamulya.

“Awalnya sih terinspirasi dari aki saya, bapak Haji Dalimi di Bojonglarang Cijati. Modal awalnya Rp 1,5 juta, lama-lama alhamdulillah masih berjalan sampai sekarang, walaupun saya belum jadi pengusaha sukses telur ayam,” tutur Ayah Ammar Zhafran Ramadhan ini, di Leles, Senin (23/9/2019).

Kini, ayam petelur cokelat masih dipelihara Alamsyah dan Indra sebanyak 150 ekor. Dari sebanyak itu bisa produksi perhari 8-9 kg.

Untuk pemasaran, menurut Alamsyah, itu dijual ke toko-toko, ke warung-warung kecil dan eceran yang ada di seputar Leles atau lewat media sosial.

Saat ngobrol panjang lebar dengan yang nulis ini, Alamsyah menjelaskan bisnis tersebut bernada promosi alias iklan untuk masyarakat Cianjur selatan yang membutuhkan telur, khususnya bagi orang Cibadra, Cipeundeuy, Sukamulya Leles dan sekitarnya.
“Iya, kalau sekarang stok telur tersedia banyak. Jadi bagi siapa saja yang membutuhkan tulur bisa hubungi WA atau sms ke nomor 085659176070,” ucap dia, serius tapi santai.

Alamsyah mengurus ayam petelur tidak sendiri, tapi dia dibantu oleh orang kepercayaannya, yakni Indra yang berlokasi di Sukamulya.
“Kan awalnya di Jajawai, sekitar empat bulan di sana, nah sekarang kandang ayam petelur sudah pindah ke Sukamulya dekat bengkel mang Bubun,” ujar Alamsyah.

Pesanan Telur Banyak:
Dia bercerita sempat kewalahan pesanan telur, seperti ketika permintaan dari salah seorang pengusaha dari Garut. Alamsyah mengaku kenal dengan orang Garut ketika dia ngampas ke Leles.
Banyak bercerita dengan orang garut, kemudian sepakat kerja sama dan membawa 1,5 ton. Setelah itu, terjual sekitar 1 Ton. “Sebanyak itu bary terjual satu ton, sisanya dikembalikan. Untuk yang sisa sekarang ada di gudang penyimpanan telur,” beber Alam.

Secara kajian ekonomis: Alamsyah mengutarakan sedikit detil produksi telur -hingga penjualan. Menurut Alamsyah, pokonya pendapatan sehari kira-kira 1,10 ons kali 150 ekor. 95 persen ayan petelur itu mengeuarkan telur.

Harga jual:
Kata Alamsyah, harga jual telur, awalnya Rp20 ribu, tapi kini Rp25 ribu ke pelanggan. “Tapi masalah harga umum aja, atau bagaimana fluktuasi dan situasi yang berkembang di kota,” imbuh dia.

Dampak kemarau:
Menurut Alamsyah, pada waktu-waktu tertentu, musim bisa menjadi lebih ekstrem dan mengakibatkan kerugian dalam bisnis ternak ayam petelur. “Ya, seperti kemarau panjang ini cukup dirasakan oleh kami,” ujarnya.

“Soalnya ngalami krisis pakan, khususnya jagung giling yang membuat harga pakan jadi mahal. Tapi saya berusaha menekan dan mewaspadi musim-musim ekstrem seperti ini,” tambahnya.

Ditanya risiko bisnis ini? Alamsyah mengatakan sama seperti bisnis lainnya. Pertama risiko kematian ayam, harga telur yang berubah-ubah, musim ekstrem, dan lainnya. (sa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here