Beranda INDEPTH Akhir Ramadhan & Muhasabah

Akhir Ramadhan & Muhasabah

174
0
Ilustrasi

JCS – Ramadhan sebagai momen istimewa untuk bermuhasabah, berbenah diri dan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Baik. Ada banyak pelajaran dalam puasa, salah satunya pelajaran mengendalikan nafsu konsumtif. Berikut ini cuplikan kisah dua anak yang taat pada sang ayah untuk berangkat ke hutan mencari ranting rangkai yang bagus, hingga kisah tamu istimewa.

Kisah Dua Anak

Ilustrasi

Ada sebuah kisah, dimana seorang bapak memerintahkan dua anaknya untuk pergi ke hutan, untuk mengambil ranting pohon terbaik menurut mereka. bapak berpesan agar mereka bisa menemukan ranting yang paling bagus. “Saat kalian menemukannya, kalian tidak boleh menukar dengan ranting yang lain dan jangan menoleh ke belakang,” perintah bapak itu kepada dua anaknya.

Anak laki-laki pertama masuk ke dalam hutan. Ia menemukan ranting tapi tak diambilnya. Sebab, ia pikir di depan sana pasti masih banyak ranting yang lebih baik.

Anak laki-laki pertama itu kemudian melanjutkan perjalanannya. Ia kembali menemukan ranting yang lebih bagus dari sebelumnya. Namun, ia tak jadi mengambilnya.

Anak laki-laki pertama terus berjalan menyusuri hutan. Tanpa sadar, ia telah keluar dari hutan tanpa membawa setangkai ranting pun.

Dua anak laki-laki itu diminta berkumpul oleh bapaknya. “Harusnya ada setangkai ranting yang saya bawa, tapi saya banyak memilih sampai tak sadar telah keluar dari hutan tanpa membawa setangkaipun,” ucap anak laki-laki pertama itu.

Bapak itu tersenyum mendengar cerita anak laki-laki pertamanya. “Tentu nak, andai kita tahu kapan kita sudah di ujung hutan itu,” terangnya.

Anak laki-laki kedua menunjukkan ranting yang dia bawa kepada bapaknya. “Rantingnya biasa-biasa saja. Saya banyak temukan ranting yang lebih bagus dari itu,” tutur anak laki-laki pertama.

Bapak itu bertanya kepada anak laki-laki kedua. “Nak, mengapa kamu pilih ranting itu,” tanya dia. Dua anak itu menjawab. “Saya pilih ranting ini karena saya suka, walau di sana banyak ranting yang lebih bagus,” jawab anak kedua itu.

Tamu Istimewa

Ilustrasi

Dari kisah-maaf agak panjang-tersebut memberikan pesan yang amat bermakna bagi kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam menghadapi tamu istimewa. Bulan Ramadhan adalah tamu istimewa.

Pada bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan puasa sebagai fardhu dan shalat tarawih sebagai sunnah. “Barangsiapa melakukan ibadah sunnah pada bulan ini, pahalanya seolah-olah ia melakukan ibadah fardhu pada bulan-bulan lainnya. Barangsiapa melakukan ibadah fardhu pada bulan ini, pahalanya seolah-olah ia telah melakukan 70 ibadah fardhu pada bulan-bulan lainnya.”

Ada banyak pelajaran dalam puasa, salah satunya pelajaran mengendalikan nafsu konsumtif. Nafsu konsumtif adalah hasrat yang mengarah pada tingkat penggunaan suatu barang tertentu secara berlebihan, dengan menghabiskan tanpa pernah berpikir untuk membuat atau menghasilkan sesuatu.

Nafsu konsumtif akan membawa manusia pada pola hidup yang berlebihan, yang nantinya juga akan membuat dia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Benar jika melihat berbagai kejadian belakangan ini. Dalam hal duniawi, ia tak pernah cukup dengan apa yang dimilikinya. Ia memiliki watak ‘serigala’, tapi dalam bentuk yang lain.

Puasa Ramadhan menuntun kita untuk berlaku jujur. Mungkin, di depan banyak orang kita mengatakan tak makan, minum dan lainnya yang membatalkan puasa, tetapi bisa jadi di belakang sebaliknya. Ini ujian kejujuran di bulan Ramadhan. Pelajaran ketiga ini amat penting dalam kehidupan sehari-hari. Para pengampu jabatan di lembaga manapun mesti belajar pelajaran ini.

Pelajaran itu amat bermanfaat bagi manusia sebagai bekal berharga di kemudian hari. Sudah optimalkah kita berpuasa dan ibadah lainnya selama bulan Ramadhan? Pertanyaan ini patut kita renungkan baik-baik, apalagi bulan Ramadhan 1440 H sudah menginjak hari terakhir.

Dalam sebuah hadist disebutkan, betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan haus. Penyebabnya, orang-orang yang melakukan hal itu tak memahami hakikat puasa yang diwajibkan, sehingga Allah ‘Azza wa jalla tak memberikan pahala kepadanya.

Menganggap bahwa Ramadhan kali ini mungkin Ramadhan terakhir, sehingga dapat menjaga kita dari kegagalan di bulan Ramadhan, sangat penting. Ia akan tolak semua acara yang dapat membuatnya menyia-nyiakan bulan Ramadhan, seperti acara nongkrong tak jelas dan lain-lain.

Terhadap hal itu, Rasulullah Shallau ‘Alaihi wa sallam menggambarkannya dengan shalat. Nabi bersabda, “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari dan kumpulkan keputusasaan terhadap apa yang ada pada manusia”.

Teman-teman semua, saatnya kita sebisa mungkin memanfaatkan setiap hari selama Ramadhan sebagai momen istimewa untuk bermuhasabah, berbenah diri dan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Baik. Jika tidak, hingga berakhir bulan Ramadhan ini, nasib kita akan sama seperti anak pertama di atas yang tak mendapatkan apapun. Kita juga seperti dua anak laki-laki itu, tak tahu kapan hutan itu berujung, tak tahu kapan umur kita berujung.

Ucapan Lebaran

Ilustrasi

Setelah Ramadhan yang penuh berkah ini pergi, harus kita renungi dan jadikan tarbiyah pembelajaran untuk hidup kita lebih baik, menjadi jiwa pemersatu bangsa, pembuka keran kebaikan, miftahul khaer; damai dan semakin optimis mantap ke depan; tetap mengedepankan rasa cinta pada sesama terlebih pada Sang Kholik dan RasulNya.

“Keyakinan membuat semua hal menjadi mungkin. Harapan membuat semua hal bekerja. Cinta membuat semua hal menjadi indah. Semoga ketiganya menjadi milikmu. Selamat Lebaran!” Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here