Pemilik Ritel Tradisional Harus Siap Bersaing -->

Advertisement

Pemilik Ritel Tradisional Harus Siap Bersaing

Jumat, 23 November 2018

Ilustrasi: Seorang perempuan sedang belanja di sebuah ritel Tangerang.
JCS - Bisnis ritel ibarat tubuh. Jika sebagian anggota tubuh ada yang sakit akan terasa sakit dan jika dibiarkan bisa bertambah penyakit bahkan menjadi kronis. Ritel tradisional Tanah Air pun lagi ‘tak enak badan’. 

Keberadaan peritel modern pelan-pelan menggerus mereka. Lihat saja, orang lebih suka datang ke minimarket dibandingkan warung-warung kecil. Padahal, barang yang dicari, misalnya saja, hanya satu kantong kecil garam atau mie instan. 

Begitu juga keadaan peritel berskala besar. Zaman sekarang, orang lebih pilih swalayan dibandingkan belanja ke pasar tradisional. 

Terkait itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, keberadaan warung (peritel tradisional) dan pasar tradisional saat ini memang semakin tersaingi dengan kehadiran ritel modern yang cukup masif.

Enggartiasto memaparkan tiga faktor yang menggerus keberadaan ritel tradisonal. Pertama, karena tidak mendapat akses sumber barang yang sama. Kedua, tidak adanya akses modal. Ketiga, kondisi tempat berjualan yang terbatas, seperti tidak ber-AC, becek dan bau. 

Mencari jalan keluar Keadaan itu akan semakin memburuk, kalau saja peritel tradisional tak segera mencari jalan keluar. 

Salah seorang pelaku Usaha, Kecil, dan menengah ( UKM), Suanjana menceritakan pernah mengalami hal tersebut. Usaha yang dibangun Suanjana di ujung tanduk.

Di tengah kondisi hampir putus asa, ia mendapat akses untuk bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC)-program kemitraan untuk pembinaan usaha kecil dari PT HM Sampoerna Tbk. 

Kendala yang dihadapinya kemudian mendapat jalan keluar. Dalam program SRC, ia dibina mulai dari perapihan toko, strategi pemasaran, sampai manajemen keuangan. 

Hal-hal itu sebelumnya jauh dari pikiran dia. Program Sampoerna Retail Community (SRC) mendukung pemberdayaan UKM, khususnya peritel tradisional, untuk pengembangan ekonomi masyarakat dan menumbuhkan semangat kewirausahaan. 

Dia sudah menemukan solusi atas masalahnya. Saat ini, dia bersama toko-toko lain yang juga bergabung dengan SRC akan terus merajut dan merawat jaringan melalui pengembangan ekonomi kerakyatan dan kontribusi positif bagi sesama. 

Dia tak ingin sukses sendiri. Oleh karena itu, sebagai bagian dari SRC dia berbagi kesuksesan dan ikut membina peritel lain di kawasan di daerahnya. Semangat berbagi yang sama juga dimiliki oleh lebih dari 60.000 mitra SRC yang tesebar di seluruh penjuru Indonesia. 

Sampoerna mendukung pemerintah dalam membangun dasar ekonomi kerakyatan melalui SRC yang berperan dalam pemberdayaan UKM, khususnya pelaku retail tradisional. 

Salah satu perwujudan komitmen itu kemudian akan diwujudkan dalam acara akbar Pesta Retail Nasional (PRN) yang akan diselenggarakan pada Kamis (22/11/2018) di ICE BSD, Tangerang. 

Melalui tiga misi Utama PRN, yakni “Ayo Maju, Ayo Bersama, Ayo Berbagi” Sampoerna senantiasa mengambil peran aktif yang memberikan dampak peningkatkan kualitas bagi mitra anggota serta masyarakat luas. 

Rangkaian aktivitas di PRN ini akan memberikan edukasi melalui pengalaman riil mengenai ekosistem komersial, PRN menampilkan replika toko retail tradisional dan simulasi pembinaan. 

Sekitar 3.000 perwakilan SRC dari 34 provinsi akan mendapat pengetahuan mengenai peran SRC dalam membangun sosial ekonomi dan keterlibatan semua lini untuk memperkuat jaringan komunitas SRC. Dengan harapan ada manfaat positif yang lebih besar lagi bagi para pelaku UKM lainnya. (sa)