Petani Kedelai Cisel Kurang Menikmati Hasilnya -->

Advertisement

Petani Kedelai Cisel Kurang Menikmati Hasilnya

Admin
Selasa, 04 September 2018

Ilustrasi 
JCS - Meskipun sebagian petani kedelai sedang mengalami musim panin. Namun mereka tidak tahu harga jualnya, alias bingung untuk menjualnya. Maklum di Cianjur selatan (Cisel) jauh dari pusat kota. Sehingga, mengenai fluktuasi atau perkembangan harga-harga hasil bumi seperti kedelai membuat mereka tak tahu. Yang jelas, setelah mereka panin kedelai di dari sawah ladang lebih memilih dinikmati bersama keluarga.

Beberapa petani kedelai Cisel mengaku hasil panin kedelai dengan cara direbus terlebih dahulu lalu dimakan. Setelah itu, ada juga dengan cara dijual (keliling) kampung di seputar tempat tinggalnya, bahkan hingga keluar desa dengan harga jual bervariasi. Harganya per satu ikat ada yang Rp3000 sampai Rp5000 siap santap. "Ah duka sabaraha harga kedelai di kota. Tos we kanggo emammeun di bumi. Sapalih kieu diical diiderkeun," kata apih Nurdin (60) petani Sindangsari Cianjur selatan, Senin (3/9/2018).

Petani lainnya Sapri (57) yang sedang di sawahnya Kampung Cikananga Leles mengaku kerja di sawah untuk panin kacang kedelai. Sawah satu kotak besar itu dimanfaatkan tanam kedelai sebagai peganti sementara, atau sambil menunggu musim hujan untuk kembali dimanfaatkan bercocok tanam padi. "Panin kedelai sekarang alhamdulillah luumayan bagus, cuma tak jadi uang kecuali dijual keceran sama tetangga," kata Sapri, Senin kemarin.

Tanam kedelai itu sekitar tiga bulan lalu ketika musim kemarau. Sampai sekarang, ditambahkan Sapri, cuaca masih juga halodo. Dan sekarang waktunya panin kedelai. "Mau dijual ke bandar atau tengkulak juga percuma soalnya tidak tahu harganya, terus seumpamanya harga kedelai lagi mahal juga jumlah kedelainya tidak begitu banyak. Ini mah daripada sawah tidak dimanfaatkan saja dalam musim kemarau ini," tuturnya.

Terkait harga kedelai terutama di daerah luar Cianjur atau perkembangan harga kedelai di kota dikabarkan harga kedelai di bawah US$ 10 per busel (setara 27 kilogram). Biasanya, saat bersamaan rupiah melemah, harga kedelai saat ini terbilang masih tetap murah. 

Yus'an, Direktur Eksekutif Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) mengatakan, sepanjang tahun ini negara produsen kedelai dunia seperti AS, Brasil, dan Argentina tengah panen kedelai. Alhasil,  negara-negara itu mempunyai stok kedelai yang berlimpah. 

Pengrajin tahu tempe lebih pilih kedelai impor. Mereka targetkan swasembada kedelai 2018 HPP rendah, petani enggan tanam kedelai
Stok yang meluber ini pula yang membuat harga kedelai global bertahan di posisi rendah. "Sampai sekarang harga kedelai di AS sekitar US$ 9,5 per busel " ujar Yus'an kepada wartawan, belum lama ini.

Rendahnya harga jual kedelai dunia ini pula yang membuat kedelai impor sampai ke Indonesia  dengan harga Rp 6.100 hingga Rp 6.300 per kilogram (kg) di tingkat importir. Harga ini jauh lebih rendah ketimbang awal tahun ini yang mencapai Rp 9.000 per kg.

Alhasil, Akindo menargetkan sampai akhir bulan Juni 2015 ini,  stok kedelai impor bisa mencapai 480.000 ton. Jumlah itu sudah cukup untuk kebutuhan kedelai tiga bulan ke depan.

Sekedar informasi setiap bulan konsumsi kedelai nasional diperkirakan mencapai 150.000 ton sehingga dengan stok tersebut pasokan kedelai dipastikan aman.

Dia mengatakan rendahnya harga kedelai dunia ini juga telah membuat pihak perorangan memilih untuk mengimpor sendiri kedelai yang mereka butuhkan.

Aip Syarifuddin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengakui penurunan harga kedelai impor membuat perajin tahu tempe lebih senang. Apalagi kedelai impor lebih bagus kualitasnya karena kalau dimasak akan mengembang.

Menurutnya jika dalam keadaan normal harga kedelai impor untuk bahan baku tahu tempe diperoleh dengan harga Rp 7.300 per kg, maka saat ini harganya hanya sekitar Rp 6.100-Rp 6.500 per kg.

Rendahnya harga kedelai impor jelas menjadi pukulan telak bagi petani kedelai lokal Pasalnya, banyak pembeli yang lebih menyukai kedelai impor dengan alasan harga yang lebih murah serta kualitas yang memadai.

Hanya, kata Yus'an, penurunan harga kedelai impor ini tak diikuti harga kedelai lokal yang harganya  masih berada di atas Rp 10.000 per kg.

Dengan kondisi seperti ini, Yuslan khawatir, peminat kedelai lokal akan beralih ke kedelai impor yang lebih murah. Jika ini terjadi, petani lagi-lagi akan menjadi korban lantaran tak bisa menjual hasil panen kedelai. Penurunan harga menjadi opsi yang tak bisa ditawar. (tas/rus).