Silam -->

Advertisement

Silam

Admin
Selasa, 24 Juli 2018

Ilustrasi
Masa silam adalah kenangan, sekarang adalah kenyataan, ke depan adalah harapan yang penuh tantangan. Gapailah bintang-bintang yang gemerlapan. Jika melukiskan kenangan yang penuh dengan rentetan peristiwa masa silam, jadikan pembelajaran. 

Pengalaman gagal mengajarkan kita bagaimana seharusnya memetik kemenangan. Begitu juga dengan sejarah kemenangan, sesungguhnya sedang mengajarkan pada kita tentang apa itu ancaman dan bagaimana bentuk peluang. Silam yang kelam, sejatinya meminta kita untuk berkaca dan mewujudkan kegemilangan di hari depan. 

Tapi sayang ingatan kita begitu mudah lupa dan melupakan. Sejarah hanya menjadi masa lalu dan tumpukan cerita saja. Lalu pada titik tertentu menjadi masa lalu bisa menyesal, sekaligus mengulangi kesalahan. Orang-orang kalah tak pernah benar-benar belajar dari sebuah dan tentang kekalahan. Yang mereka mau hanyalah kemenangan, karena mereka lelah jadi pecundang.

Mereka tak pernah benar-benar belajar, bagaimana caranya harus menang. Dan mereka akan terus kalah, dan dikalahkan. Benar atau tidak bukan masalah besar. Kebenaran yang tak belajar dimenangkan, akan terus kalah, dan dikalahkan. Lalu kita hanya bisa menyesal, sekaligus mengulangi kesalahan.

Pun para penguasa dan pemenang, mereka tak benar-benar belajar tentang arti kemenangan. Satu-satunya mereka tahu adalah, mereguk nikmat kekuasaan sampai dasar cawan. Pada akhirnya mereka akan menyesal, menjadi orang-orang kalah. Mereka kadang dikalahkan oleh kebenaran, tapi yang sering terjadi justru, mereka dikalahkan oleh kekuasaan yang lebih besar namun belum tentu benar. Mereka dikalahkan oleh yang siap jadi pemenang. Ingatan kita begitu pendek dan rapuh. 

Tapi kita menyebut dari manusia, yang seharusnya menjadi makhluk pelaku dan pembuat sejarah. Menang atau kalah sebenarnya bukan suatu istimewa. Keduanya hal yang biasa, dan selalu dipergilirkan.

Tapi menang atau kalah menjadi penting, jika kebenaran menjadi taruhan besar dalam sebuah pertandingan. Atau pertempuran. Kebenaran tak boleh kalah, atau dikalahkan, hanya karena para pembawanya pendek ingatan, tak mau belajar, dan tak siap untuk menang. Memang ada saatnya menang. Dan itu harus diciptakan, direbut, dimenangkan. 

Jika masa lalu kita kalah karena tak mau belajar dari kegagalan, semestinya kini kita sudah mahir belajar. Jika di hari silam, kita sial karena tak punya kekuatan, mestinya kini kita sudah tumbuh menjadi perkasa dan perhitungan. Jika diwaktu lampau kita jadi pecundang karena bercerai berai, seharusnya kita sudah utuh kini. 

Tapi semua bisa terjadi, jika ingatan kita panjang, mampu belajar dari sejarah silam, dan tak mengulang kealpaan. Dan terlebih lagi, karena kita adalah manusia yang harus memenangkan kebenaran dan kebaikan!* Wallahu a'lam.