Revolusi Bumi -->

Advertisement

Revolusi Bumi

Admin
Senin, 25 Juni 2018

Ilustrasi 
JCS - Bumi berputar pada porosnya yang searah dengan arah jarum jam. Itu menurut teori dari para ilmuwan dan juga dalam ilmu Geografi dan BMKG. Wallahu a'lam. Jadi bumi ini disamping berotasi pada porosnya, juga beredar mengelilingi matahari. Revolusi ini menghasilkan perubahan-perubahan musim. Apabila bidang orbit bertepatan dengan bidang khatulistiwa bumi, maka perubahan musim itu kecil sekali. 

Pada kedudukan perihelium bumi, yaitu ketika bumi melukiskan elipsnya di ruang angkasa mencapai poros besar pada posisi di ujung paling dekat dengan matahari, maka terjadilah radiasi matahari dengan ketajaman (intensitas) yang paling besar, dan sebaliknya apabila kedudukan matahari berbeda di titik ujung poros besar yang jauh dari matahari, terjadilah pemanasan matahari yang minim. Bila menggambar revolusi bumi pada papan bor, setidaknya kita dapat membayangkan adanya hubungan yang erat antara revolusi bumi dengan musim-musim yang terjadi.

Revolusi bumi dan cuaca akan ada perubahan 21 Maret-22 Juni-23 Desember-22 Desember. Dalam gambar melukiskan bahwa bidang khatulistiwa adalah condong sebesar 23,5 derajat dari orbit bumi. Hal itu berarti bahwa suhu bumi condong membuat sudut sebesar 23,5 derajat dari tegak lurus ke bidang orbit bumi. Dalam kejadian ini sumbu bumi itu adalah condong sangat dekat dalam sumbu atau poros elips. Dengan demikian terjadilah apa yang disebut solstisium yaitu kejadian poros bumi yang condong terhadap matahari, dengan kedudukan sangat dekat dengan titik perihelium dan aphelium. 

Solstisium musim dingin atau solstisium winter, terjadi apabila kedudukan matahari paling di selatan (untuk belahan bumi utara). Kejadian ini ialah beberapa hari sebelum perihelium. Jadi, pada kejadian musim dingin (winter) untuk belahan bumi utara itu pada tempat-tempat yang berkedudukan di lintang selatan 23,5 derajat, pada siang tengah hari, matahari akan langsung berada di atas kepala.

Sesuai gambar inklinasi dan kesejajaran sumbu bumi terhadap perubahan musim untuk belahan bumi utara, Northern Hemisphere (dari Prof. Glenn T. Treartha; 1954-11). Ketika musim panas, kedudukan semu matahari berada di titik paling utara, akan terjadi beberapa sebelum aphelium. Jadi, untuk daerah-daerah yang terletak pada 23,5 derajat lintang utara, maka matahari itu pada tengah harinya tegak lurus di kepala. 

Pada kedudukan dua buah titik pertengahan jalan antara solstisium-solstisium, sebuah garis penghubung dua buah titik dapat dibuat dari matahari ke bumi adalah tegak lurus terhadap inklinasi sumbu bumi sedemikian rupa, sehingga matahari memberikan sinarnya untuk belahan bumi utara dan belahan bumi selatan adalah sama. 

Garis tersebut dinamakan ekuinokita yang di ujung-ujungnya terjadi ekuonoktium musim semi dan ekuinokita musim rontok. Hari-hari mendekati kedudukan titik-titik atau kejadian-kejadian tersebut adalah: ekuinoktium musim semi terjadi 21 Maret: solstisium musim panas (summer) ialah 22 Juni; ekuinoktium musim rontok pada 23 September.

Kemudian solstisium musim dingin terjadi pada tanggal 22 Desember. Tanggal-tanggal sangat sedikit untuk dihubungkan dengan kejadian tahun kabisat. Waktu dari ekuinokita musim semi ke solstisium musim panas kadang-kadang menunjukan hal itu sebagai musim bunga dari kejadian itu lalu berkelanjutan menjadi musim panas, musim rontok, dan musim dingin. Dari pengujian dara cuaca, hal ini memperlihatkan bahwa tanggal-tanggal tersebut hanya mempunyai arti umum saja dalam meteorolgi. 

Dalam astronomi, telah didapatkan kecocokan untuk tujuan-tujuan pembuatan pengukuran dan perhitungan untuk memperkirakan bahwa bumi kita berada dalam ruang dan berbicara tentang gerak yang jelas dari matahari dan bintang-bintang. Wallahu a'lam. (tas).