Menuju Talaga Ciukur -->

Advertisement

Menuju Talaga Ciukur

Admin
Minggu, 06 Mei 2018

Talaga Ciukur Takokak / Baharudin Subagja
Treveling atau perjalanan menuju Talaga Ciukur Desa Bungbangsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, setidaknya bikin lelah tapi terobati oleh keindahan panorama alam.

Seperti dialami mojang priangan, Dya Iqanov. Seperti apa ceritanya?
Udah lama penasaran ama danau ini dri 2015. Tiap rencanain mau kesini, ketikung terus sama tempat lainnya. Nyari-nyari referensi fotonya di internet pun lumayan susah, ga nemu malahan. Akhirnya weekend kemaren berhasil 'kabur' dan langsung datengin danau ini. Ternyata ga terlalu besar & aga susah buat keliling danau karna jalurnya ketutup. Airny pun ga jernih. Biarpun gitu, puas rasanya bisa nyampe kesini, jadi rasa penasaran saya selama 2 tahun terbayar sudah. Talaga Ciukur Desa Bungbangsari, Kec. Takokak, Kab. Cianjur, Jawa Barat 22 Januari 2017 #landscape #lake #ciukur #bungbangsari #takokak #cianjur #jawabarat #indonesia #visitcianjur #explorecianjurselatan #photojabar #amazingwestjava #travelnatic #travelers_id #petualangindonesia #pesonaindonesia_id #travelingindonesia #instaravel #instatraveling #travelinggram #viewindonesia #jelajah_indonesia #jawabaratpunya #travelingyuk #travelingtheworld #selusurnusantara
A post shared by Dya Iganov (@dya_iganov) on

Perempuan cantik warga Kota Bandung ini menuturkan perjalanan menuju Cianjur selatan, tujuannya selain hobi selfi, juga hanya sekedar cari lokasi yang indah bikin jernih pikiran. Dya (22 th), mengaku cukup melelahkan menempuh perjalanan Cianjur selatan, namun dibalik itu terasa segar saat lewat kebun teh Campaka, Sukanagara, Ciguha, sampai Takokak perbatasan Nyalindung, Sukabumi. "Saya berangkat dari Bandung sama teman-teman menuju dua lokasi danau Cianjur dan Sukabumi. Karena kedua danau ini berada di wilayah perbatasan kabupaten tersebut," tutur Dya dalam Instagramnya.

Talaga Ciukur merupakan danau pertama yang berada di Cianjur yang ia kunjungi. Dya menceritakan perjalanan dan rute yang ia lewati. Dya mencoba naik motor. Sedangkan teman-temannya ada yang naik mobil rombongan, ada juga boncengan pake motor. Menurut Dya, jalur pergi ambil jalan utama Bandung-Cianjur. "Aku berangkat dari Bandung sekitar pukul 6.30 WIB saat arus lalulintas masih cukup lancar. Aku istirahat sejenak sambil sarapan di Karangtengah Cianjur pulkul 8.15," kata Dya. Cuaca sepanjang perjalanan cukup cerah. Dari Terminal Pasir Hayam, cabut mengarah Cianjur selatan.

Jalur ini, sambung Dya, arus lalin cukup ramai oleh mobil, motor bahkan rombongan sepeda yang sedang bersiap-siap turun ke jalan. Dya sempat terjbak macet di Pasar Cibeber. Lewat Cibeber, arus lalin sedikit sepi dan nanjak jalan kawasan Lebak Siuh. Kondisi jalannya banyak yang rusak sepanjang Cibeber hingga perbatasan Campaka memperlambat perjalanannya. Arus lalin menuju Sukanagara mulai ramai. Ia menemui kesulitan untuk menyusul rombongan mobil pribadi. Arus kembali tersendat di pasar atau pusat kota Campaka. Volume kendaraan mulai terurai di sini.

Sebagian teman ada yang menuju jalur obyek wisata Curug Cikondang dan Situs Gunungpadang Desa Karyamukti, Campaka. Sebagian lagi berhenti di Campaka. Sebagian kecil melanjutkan ke arah Selatan. "Yang ke selatan termasuk aku," imbuhnya, imut.

Perjalanan menuju Sukanagara terasa sangat lama. Hal ini sambung dia, disebabkan ramainya arus lalu lintas, ditambah banyak jalan berlobang. "Aku nggak bisa memacu motor dengan cepat kaya cowok," celotehnya.

Rasa ngantukpun mulai datang ketika memasuki area perkebunan teh Sukanagara. Dya berhenti di Pom Bensin Sukanagara sekitar pukul 10.00 WIB. "Disitu aku ngisi bensin dan istirahat. Duh, badan aku terasa pegel semua, padahal setengah jalan saja belum," ucapnya.

Dya kembali melanjutkan perjalanaan. Patokannya adalah terminal Sukanagara. Jam 10 di terminal Sukanagara, Dya bersama teman perempuan itu ambil arah kanan menuju Kadupandak. Patokannya perapatan Ciawitali Desa Gunungsari. Lanjut jalan menuju Ciguha cukup bagus. Aspal jalan mulus, cuma lebar lahan agak sempit dengan pemandangan berupa hutan pinus Perhutani BKPH Sukanagara selatan, disambung area kebun teh PT Lamteh, Ciwangi, Ciguha menjadi obat ngantuk karena perjalanan Pasirhayam-Cibeber-Campaka yang sangat monoton. Kata Dya, lewat Ciguha, kondisi jalan semakin berlobang dengan lapisan aspal yang sudah mengelupas. Lalu lintas sangat sepi. Meski beberapa lokasi melewati perumahan. "Pokonya jarang berpapasan dengan kendaraan lain," ujarnya.

Menurut Dyna, pemandangan di jalur ini cukup bagus. Hamparan kebun teh, bukit-bukit yang masih tertutup hutan lebat, jejeran perbukitan yang masih panjang mengarah ke tempat yang dituju sangat mengibur. Di jalur yang cukup sepi ini, kondisi jalan yang di lalui Dya, semakin rusak. Ketika berada di salah satu tikungan, secara tidak sengaja Dya melihat ada air terjun cukup besar di sisi kanan. Jarak air terjun dengan posisi jalan yang dia lewati tidak terlalu jauh. "Saya lihat, jalan dan air terjun terpisah oleh sawah dengan medan yang cukup datar," katanya.

Dya memutuskan untuk mampir ketika nanti pulang, soalnya ingin menikmati keasrian air terjun tadi. Karena tujuannya yaitu Talaga Ciukur masih jauh. Dalam perjalanan ke Talaga Ciukur, Takokak perbatasan Nyalindung Sukabumi, melintasi jalur yang mulus dengan pemandangan yang cukup menyegarkan mata membuat dirinya nyaris menabrak gulungan kabel telepon yang menjulur ke jalan. Jejeran perbukitan ke arah Takokak didominasi oleh area kebun teh, tampak sangat jelas, lengkap dengan permukiman penduduk (bedeng-red) yang tersebar di lereng dan lambahnya.

Hampir tiba di lokasi Talaga Ciukur. Di sisi utara, terlihat tiga puncakan bukit yang masih tertutup hutan rimbun. Saking khususnya melihat pemandangan di jalur ini, ia sempat lupa cek posisi tempat. Menuju lokasi, lewati jalan beton yang tidak terlalu panjang. GPS eror karena sinyal kurang bagus, akibatnya dia tidak bisa mengetahui posisi dia saat itu.

Dia menju Desa Bungbangsari. Disitu ada papan nama jalan Danau Ciukur tepatnya sebelah warung kecil di sisi kirinya. Jalan setapak dengan kondisi sebagian makam sebagian lagi tanah merah. Pukul 12.30 WIB berada di Talaga Ciukur, matahari cukup terik. "Saya ngambil beberapa foto di sana. Ternyata danau kecil tapi lumayan indah. Mungkin pemanfaatnnya hanya sebatas untuk pengairan lahan teh dan tempat mancing warga setempat," ungkapnya.

Masih diutarakan Dya, jika ingin seru selfi harus pagi. Kalau siang maju ke sore matahari berada di barat sehingga potensi backlight. "Jadi waktu yang pas untuk ambil foto landscape di jalur ini pada pagi hingga duhur. Meski demikian, view ke arah timur lebih bagus karena matahari datang dari barat," paparnya seraya habis itu otw pulang. (tas/rus).